Single Fighter Tunggal Putra di Swiss Open, Vito Dibebankan Target Tembus Semifinal

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Rangkaian turnamen bulutangkis di benua Eropa akan dimulai pada awal Maret dalam ajang Swiss Open, 2-7 Maret.

Untuk sektor tunggal putra, nama Shesar Hiren Rhustavito bakal berstatus single fighter atau satu-satunya harapan Indonesia untuk meraih prestasi pada ajang Swiss Open 2021.

Meski hanya single fighter, Vito-sapaan akrabnya ternyata mendapat target tinggi dari sang pelatih, Hendry Saputra. "Kami harapkan semaksimal mungkin. Target Vito bisa masuk di semifinal," kata Hendry melalui keterangan pers yang diterima Bola.com.

Untuk merealisasikan target di atas, Hendry membeberkan persiapan apa saja yang dilakukan Vito, terutama dari sisi teknik.

"Persiapan setelah pulang dari (rangkaian turnamen leg Asia) Thailand, kalau melihat hasil main Vito, dari teknik pukulan atau stroke-nya harus lebih mantap lagi," Hendry memberikan analisis.

"Lebih fokus untuk penerapan cara bermain dan stroke-nya yang tepat. Kalau untuk fisik atau mentalnya, setelah konsultasi dan komunikasi dengan Vito, dia sudah oke."

"Jadi dari teknik dan fokus cara penggunaan tekniknya ini yang kami terapkan selama kurang lebih 2-3 minggu sebelum berangkat ke Swiss," lanjutnya.

Soal Kegagalan di Leg Asia

Hendry Saputra, pelatih tunggal putra Pelatnas PBSI. (Dokumentasi PBSI)
Hendry Saputra, pelatih tunggal putra Pelatnas PBSI. (Dokumentasi PBSI)

Skuad tunggal putra Indonesia sendiri membawa modal buruk menuju rangkaian turnamen Eropa, khususnya Swiss Open. Karena pada tiga rangkaian turnamen Leg Asia di Bangkok, Thailand, Jonatan Christie dan kawan-kawan gagal mendapatkan gelar.

Hendry juga menilai, para pemain lawan khususnya saat Leg Asia di Thailand, Bangkok, Januari lalu memiliki persiapan yang lebih baik. Selain itu, menurut Hendry setiap atlet juga ada masanya mengalami penurunan performa.

"Kalau saya lihat para pemain lawan saat pertandingan di Thailand, sebenarnya dari tingkat kemajuan lawan, dalam hal teknik sih saya rasa biasa saja," kata Hendry.

"Tapi mungkin lawan itu siap untuk juaranya lebih ada. Mereka lebih siap, baik dari sisi mental, pikiran, dan daya juang. Bukan berarti pemain kita tidak siap atau tidak ada, tapi lawan lebih siap," tambahnya.

Saksikan Video Pilihan Kami: