Sira Lamnga yang Kini Hanya Jadi Kenangan

Dian Lestari Ningsih, indahelzerra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kata kenangan menurut kamus besar Indonesia adalah sesuatu yang membekas diingatan. Kenangan menjadi sesuatu yang membuat kita teringat akan kejadian yang sangat penting yang pernah terjadi. Masih jelas dalam ingatan kita bersama, bagaimana dulu sebelum tsunami nama Sira Lamnga begitu terkenal seantero Aceh Besar dan Banda Aceh.

Masyarakat yang ingin membeli garam pun tidak akan pernah ragu dengan kualitas dari Sira lamnga ini. Sira Lamnga menjadi garam kebanggan masyarakat kemukiman Lamnga pada kala itu. Nama Sira Lamnga menjadi garam kebanggan masyarakat di Gampong Lamnga yang gampongnya berbatasan dengan Gampong Lam Ujong, Gampong Baro, Gampong Neuhen, Gampong Durong dan Gampong Ladong.

Dulu sebelum tsunami terjadi banyak masyarakat di kemukiman Lamnga yang mencari rezeki dengan mengepulkan asap untuk memasak garam. Hamparan puluhan lancang garam pun tidak pernah ada yang terbengkalai dari kegiatan memasak garam. Aktivitas masyarakat Lamnga pun tidak pernah jauh-jauh dari memasak garam.

Namun, semuanya berbeda setelah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 menyerang pesisir Lamnga, banyak hamparan lancang garam hilang dan juga petani garam banyak yang meninggal. Puluhan lancang garam yang dulunya menjadi tempat melancang kini banyak yang terbengkalai. Pada saat tsunami terjadi banyak petani garam yang meninggal, hanya beberapa saja yang tersisa.

Mereka yang selamat dari kejadian tsunami ini mencoba kembali menekuni profesi sebagai petani garam, namun seusai mereka meninggal tidak ada lagi yang meneruskan usaha untuk kembali menghidupkan nama Sira Lamnga. Tanpa terasa sudah 16 tahun lamanya tsunami terjadi, namun sampai sekarang nama Sira Lamnga tidak bisa bangkit kembali.

Kini nama itu hanya bisa kita dengar kenangannya saja. Bila kita telusuri ke Gampong Lamnga memang sangat susah mencari jambo-jambo yang asapnya mengepul keatas untuk memasak garam. Lahan-lahan yang menjadi tempat untuk menjemur garam pun sekarang sudah banyak yang beralih menjadi tambak-tambak yang lebih menjanjikan.

Tidak banyak petani garam yang bisa kita temui setelah tsunami terjadi, hanya puluhan orang saja dari generasi sebelum tsunami yang mau kembali bergelut dengan panasnya matahari dan asap untuk memasak garam. Masyarakat di Gampong Lam Ujong yang berbatasan langsung dengan Gampong Lamnga, mencoba kembali menghidupkan kembali kepulan asap untuk memasak garam.

Mereka kembali melakukan aktivitas memasak garam beberapa tahun setelah tsunami menyerang, dibantu dengan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan kini usaha mereka sudah mulai menampakkan hasil. Pada tahun 2013 petani garam yang tergabung kedalam kelompok usaha kelautan dan perikanan didata kemudian diberikan bantuan modal untuk kembali melanjutkan usahanya dalam memasak garam.

SUMBER ASLI