Siswa di NTT Ujian Online di Bukit, Menkominfo Diminta Turun Tangan

Dedy Priatmojo, antv/tvOne
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebanyak 137 SMP di Manggarai Timur Nusa Tenggara Timur tengah melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD).

USBD dilaksanakan sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Peniadaan Ujian Nasional dan Ujian Kesetaraan serta Pelaksanaan Ujian Sekolah dalam masa Darurat Penyebaran COVID-19.

Karena dilasanakan secara online maka ujian akhir sekolah pengganti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ini membutuhkan akses internet dan peralatan IT yang memadai.

Untuk wilayah yang terjangkau sinyal internet dan memiliki peralatan pendukung, penerapan ujian berbasis digital mungkin tidak jadi masalah, tapi bagaimana dengan daerah-daerah pedalaman?

Kabupaten Manggarai Timur misalnya, daerah ini merupakan daerah dengan titik blind spot terbanyak di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

VIVA menyaksikan langsung penderitaan 46 siswa siwi kelas IX SMP Negeri Satu Atap (Satap) Munde di Kecamatan Kota Komba yang rela berjalan lima kilometer mendaki bukit mencari sinyal internet.

Begitu pun perjuangan peserta ujian di SMPN 04 Kota Komba dan SMPN Satap Mesi yang melaksanakan ujian di bawah tenda darurat di atas perbukitan.

Kepala Sekolah SMPN Satap Munde, Robertus Jani mengungkapkan, setelah internet di sekolahnya hilang total ia dan guru-guru berpencar mencari titik yang memiliki jaringan internet. Untung saja mereka menemukan spot internet di Sikuara berjarak lima kilometer dari SMPN Satap Munde.

"Ke bukit ini kita jalan 5 kilometer. Mudah-mudahan sinyal di sini tidak hilang lagi. Tadinya waktu tryout di sekolah kami ada sinyal internet tapi begitu ujian tiba-tiba internet hilang dan kami pusing mencari sinyal dan di Sikuara yang cukup kencang," kata Kepsek Jani kepada VIVA

Menurut Robertustidak semua peserta ujian mendapat kuota internet dari Kemendikbud sehingga orang tua diwajibkan mengisi paket data untuk anak mereka yang melaksanakan ujian. Guru-guru juga membagikan hotspot kepada peserta yang membutuhkan.

Sementara itu, Diana, seorang peserta ujian mengaku mengerjakan ujian di bawah pepohonan mengahdirkan nuansa berbeda tapi dia sedikit terganggu karena sering digigit semut.

"Untuk internet di sini cukup kencang. Jaringan 4G. Tapi kita tidak nyaman karena mengerjakan soal ujian dan digigit semut. Tapi kita bisa selesai tepat waktu," tutur Diana.

Diana berharap agar ujian semacam ini tidak perlu terjadi lagi di masa-masa mendatang. Ia pun meminta pemerintah untuk mengevaluasi pelaksanaan USBD. "Disuruh ujian digital tapi internet masih parah, bagaimana ya," sinis Diana.

Pemda Pasrah

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur, Belasius Teto mengatakan pelaksanaan USBD umumnya dilaporlan berjalan lancar meskipun tidak sedikit sekolah yang mengalami masalah koneksi internet.

Ia mengaku prihatin dengan peristiwa yang terjadi di beberapa sekolah yang terpaksa memindahkan lokasi ujian akibat ketiadaan jaringan internet.

Terkait sekolah-sekolah yang terpaksa melaksanakan ujian di atas bukit ataupun yang memindahkan tempat ujian ke sekolah lain, lanjut Teto, menjadi atensi dan bahan evaluasi pemerintah. Dia berharap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerard Plate segera turun tangan.

"Memang kami sudah pahami pasti ada kendala, pertama sarana prasarana yang mendukung proses ujian ini terutama koneksi internet dan peralatan IT masih kurang tetapi di sini seorang kepala sekolah dituntut harus punya kemampuan supaya ujian sekolah berbasis digital ini bisa berjalan dengan sukses," kata Belasius Teto di ruang kerjanya, Kamis 15 April 2021.

Masalah internet di lingkungan sekolah, khususnya SD dan SMP kata Teto telah disampaikan secara resmi kepada pihak Infokom Manggarai Timur apalagi setelah USBD SMP dilanjutkan dengan USBD tingkat SD yang mulai dilaksanakan pada 26 April 2021 mendatang.

"Ke depan masalah sinyal ini menjadi perhatian serius pemerintah terutama instansi terkait. Saya sudah sampaikan dan melapor secara resmi kepada Kepala Dinas Infokom supaya kalau ada pembangunan tower itu utamakan sekolah-sekolah karena USBD ini dilakanakan setiap tahun," jelasnya.

"Sesuatu yang baru pasti ada kesalahan. Prinsipnya kita belajar dari kekurangan bukan karena kelebihan kekurangan itu adalah tantangan kita sehingga perlu dievaluasi," ujarnya menambahkan.

Laporan: Jo Kenaru/ Manggarai Timur-NTT