Siswa Muslim Australia Diduga Dipaksa Nonton Kartun Menghina Nabi di Kelas

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebuah sekolah di Kota Melbourne, Australia dituduh memaksa seorang siswa muslim menonton film kartun yang menghina Nabi Muhammad di kelas. Peristiwa itu memicu penyelidikan aparat keamanan.

Menurut ayah dari siswa itu, seorang guru di sekolah diduga memutar film kartun berisi "penistaan agama" di kelas yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad. Departemen Pendidikan Negara Bagian Victoria tengah menyelidiki kasus ini.

Menggambarkan sosok nabi dilarang dalam Islam dan siswa itu dilaporkan sudah menyampaikan keberatan kepada sang guru tapi protesnya diabaikan.

Dilansir laman the Guardian, Ahad (6/11), dalam status di Facebook, ayah siswa itu mengatakan si guru berkukuh memutar film kartun itu dan membuat putrinya "menderita trauma mental dan gangguan psikologis".

"Putri saya juga menyampaikan keberatannya tentang video itu tapi si guru tidak peduli dan terus memutar video tersebut sehingga putri saya melihat film itu," tulisnya.

"Kami sebagai muslim tidak bisa menerima penghinan terhadap Nabi Muhammad seperti itu," kata dia.

Sang ayah menuntut pihak sekolah meminta maaf dan memberikan penjelasan mengapa sampai kartun itu harus diputar di kelas.

"Kami ingin ada permintaan maaf resmi dan kami menuntut penjelasan mengapa hal ini sampai terjadi."

Juru bicara Departemen Pendidikan Victoria mengatakan kepada the Guardian, mereka tengah menyelidiki kasus ini.

"Pihak departemen sedang mengkaji masalah ini. Jika penyelidikan sudah rampung, departemen akan memutuskan apakah diperlukan saran tambahan kepada pihak sekolah dalam masalah sensitif ini," kata departemen.

Dewan Islam Victoria (ICV) dalam pernyataannya mengatakan komunitas muslim di Melbourne sangat marah dengan kejadian ini.

"ICV sangat memahami ada anggota komunitas yang sangat marah dengan apa yang mereka dengar dan mereka ingin menyampaikan kemarahan itu," kata ICV.

Pihak ICV mengaku sudah bertemu dengan departemen pendidikan dan pihak sekolah dan mereka berjanji tidak akan lagi memakai materi itu di kelas.

"Ada diskusi yang masih berlangsung dengan pihak sekolah berkaitan dengan tindakan guru itu dan juga kami meminta pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf dan ini menjadi peluang untuk membahas tentang Islam dan Nabi Muhammad kepada pihak sekolah," kata ICV. [pan]