Situasi Belum Kondusif, Kunjungan Warga Korsel ke Myanmar Bakal Dilarang?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Seoul - Korea Selatan (Korsel) siap mengambil langkah tegas untuk melarang kunjungan ke Myanmar akibat situasi yang masih rusuh. Korsel mengaku siap menerapkan travel ban ke Myanmar.

Pernyataan itu dibuat oleh Kementerian Luar Negeri Korsel pada Senin (5/4/2021).

Menurut laporan Yonhap, pemerintah Korsel sudah pernah mengirimkan pesawat charter ke Myanmar untuk memulangkan warganya. Ada sekitar 3.500 warga Korsel di Myanmar dan 411 ikut pulang naik pesawat tersebut.

Belum ada laporan rakyat Korsel yang menjadi korban. Tetapi, ada penembakan seorang pegawai lokal Bank Shinhan milik Korsel sehingga Korsel waspada.

Rakyat Myanmar masih terus memprotes kudeta dan pemerintah militer. Korban jiwa pun terus berjatuhan hingga 500 lebih, termasuk anak-anak muda.

Siap Travel Ban

Para pengunjuk rasa mengumpulkan ban untuk menambah api yang dipasang selama unjuk rasa menentang kudeta militer di kota Tarmwe di Yangon, Myanmar (27/3/2021). (AP Photo)
Para pengunjuk rasa mengumpulkan ban untuk menambah api yang dipasang selama unjuk rasa menentang kudeta militer di kota Tarmwe di Yangon, Myanmar (27/3/2021). (AP Photo)

Pemerintah Korsel mengaku sudah siap mengambil langkah cepat jika diperlukan, termasuk siap melakukan travel ban, meski belum pasti dilakukan dalam waktu dekat.

Untuk sementara saat ini warga Korsel diminta untuk mencari tempat aman terlebih dahulu sementara pemerintah berusaha memulangkan mereka, sebelum ada travel ban.

Mulai pekan ini, Korsel mengirim pengiriman pesawat charter pun terus dilakukan. Dimulai pekan ini, Korea Selatan akan mengirim tiga pesawat tiap minggunya. Empat pesawat juga dimungkinkan bila permintaan meningkat.

Menteri Luar Negeri Chung Eui-yong berkata siap mengirimkan pesawat militer atau pesawat khusus untuk membawa pulang warga Korsel dari Myanmar.

Ada 260 perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Myanmar, kebanyakan dari mereka beroperasi di bisnis jahit.

Potensi Perang Saudara di Myanmar

Panglima Tertinggi Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing memimpin parade tentara pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (27/3/2021). Myanmar saat ini sedang dalam kekacauan sejak  para jenderal militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada Februari. (AP Photo)
Panglima Tertinggi Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing memimpin parade tentara pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (27/3/2021). Myanmar saat ini sedang dalam kekacauan sejak para jenderal militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada Februari. (AP Photo)

Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Untuk Myanmar, memperingatkan bahwa pertumpahan darah terancam tidak akan terelakkan di negara tersebut.

Tim dari PBB itu juga menyebut, kemungkinan terjadinya perang saudara semakin besar di negara di mana kekuasaan sipil tak kunjung dipulihkan, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Kamis (1/4).

"Saya menyerukan kepada dewan ini untuk mempertimbangkan semua piranti yang tersedia untuk mengambil langkah kolektif dan melakukan hal yang benar untuk rakyat Myanmar," kata Utusan Khusus Christine Schraner-Burgener.

"Serta mencegah sebuah bencana multi-dimensi di jantung Asia." Schraner mengatakan hal itu dalam pertemuan tertutup di Dewan Keamanan PBB pada Rabu 31 Maret.

Schraner mengatakan, ia khawatir konflik ini akan semakin menelan korban jiwa karena panglima tertinggi militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, tampaknya hendak memperkuat cengkeramannya. Schraner merujuk peningkatan pertempuran di negara bagian Kayin dan Kachin.

Saksikan Video Pilihan Berikut: