Situasi yang tidak bersahabat membuat LGBT Hongaria ingin beremigrasi

·Bacaan 4 menit

Budapest (AFP) - Ketika Hungaria meningkatkan tindakan kerasnya terhadap hak-hak gay, termasuk larangan efektif atas adopsi oleh pasangan sesama jenis, beberapa LGBT Hungaria hampir keluar dari negara itu sementara yang lain sudah pergi.

"Itu memotivasi saya untuk pergi, bahwa saya mungkin tidak dapat memiliki kehidupan dengan pasangan yang kami impikan, mungkin memiliki keluarga di masa depan," kata Barbara Pongracz, konsultan rekrutmen berusia 31 tahun, kepada AFP.

"Saya sudah muak dengan lingkungan negatif ini," kata Pongracz yang juga DJ dalam acara-acara ,LGBT.

Perdana Menteri Viktor Orban menerapkan agenda kebijakan konservatif secara sosial dalam beberapa tahun terakhir sehingga membentuk Hongaria menjadi apa yang dia sebut benteng melawan ideologi liberal.

Pada Selasa, parlemen mengesahkan amandemen konstitusi yang menyatakan "ibu adalah perempuan, ayah adalah laki-laki" ketika pemerintah menggandakan definisi tradisional tentang keluarga dan pernikahan.

Undang-undang baru lainnya mengatakan hanya pasangan menikah yang dapat mengadopsi anak sehingga otomatis mengecualikan LGBT Hungaria karena pernikahan gay tidak diizinkan di Hungaria.

Gelombang legislatif tahun ini disertai dengan meningkatnya sentimen anti-gay di media yang kadang-kadang disuarakan oleh politisi senior.

Orban sendiri mendesak kaum gay agar "tidak mengganggu anak-anak kita" pada Oktober.

Baru beberapa pekan kemudian, Jozsef Szajer, salah satu pendiri partai Fidesz, partainya Orban yang berkuasa, dan penyusun utama konstitusi Hungaria yang ditulis ulang pada 2012, mengundurkan diri sebagai anggota parlemen setelah polisi Belgia menangkapnya melarikan diri dari pesta gay di Brussel yang melanggar aturan lockdown.

"Saya tidak heran ada kaum gay di Fidesz," kata Pongracz. "Itu semakin mengganggu cara mereka berbicara tentang orang LGBT."

"Komunitas LGBT telah menjadi kambing hitam," kata Marcell Lenart, penerjemah lepas berusia 39 tahun yang mengatakan sikap di jalan telah "terpolarisasi" baru-baru ini.

"Jika saya berpegangan tangan dengan pasangan saya di depan umum, orang-orang sekarang menunjukkan salah satu, kemajuan sikap mereka atau mereka secara terbuka homofobia," kata Lenart kepada AFP.

"Tapi kami hanya ingin dibiarkan sendiri," kata dia.

Dihadapkan kepada peraturan perundang-undangan itu, terutama larangan pengasuhan sesama jenis dan pembubaran otoritas kesetaraan baru-baru ini yang menangani kasus diskriminasi tempat kerja dan perumahan, Lenart juga terpikir untuk meninggalkan Hungaria.

"Saya tidak berpikir untuk mengadopsi sekarang, tetapi jika itu segera berubah, itu mengecewakan bahwa pada dasarnya saya tidak bisa melakukan itu di sini," kata dia.

Ivett Ordog (40) memutuskan beremigrasi tak lama setelah undang-undang lain disahkan pada Mei yang membalikkan peraturan yang memungkinkan waria mengubah gender yang tercantum dalam dokumen hukum.

Sebelumnya menjadi juru bicara kampanye "Drop 33" yang menentang undang-undang tersebut, dia pindah ke Berlin pada Agustus di mana dia bekerja sebagai manajer teknik.

"Saya merasa lebih tenang di sini, sebelum pindah saya mulai mengembangkan masalah psikologis," kata dia kepada AFP.

Ordog mengatakan undang-undang baru tersebut menempatkan orang-orang trans pada risiko dilecehkan dalam situasi ketika mereka harus menunjukkan dokumen identitas mereka sehingga memaksa mereka menyatakan transgender misalnya saat mengumpulkan paket di kantor pos atau mengakses layanan publik.

"Biasanya tidak ada hal buruk yang terjadi, tetapi setiap kali Anda harus bersiap untuk yang terburuk, saat Anda tampil di depan staf atau banyak penonton, Anda tidak pernah tahu apakah seseorang akan mengejar Anda," kata Ordog.

"Orang memiliki kecenderungan alami untuk ingin tahu, tetapi gampang sekali berubah melawan minoritas yang tidak memiliki banyak informasi," tambah dia.

Kekerasan anti-gay masih jarang terjadi di Hungaria, tetapi Agoston, emigran baru-baru ini yang tidak ingin nama lengkapnya dipublikasikan, mengatakan agresi verbal meningkat.

"Saya bosan terhadap homofobia," kata perawat berusia 39 tahun yang juga menjadi sukarelawan setiap tahun untuk memimpin parade tahunan Budapest Pride.

Dalam beberapa tahun terakhir dia mengalami "serangan sayap kanan yang semakin banyak acara Pride, bukan secara fisik tetapi verbal, tetapi trennya memburuk".

Agoston mengatakan dia merasa "lebih kesepian dibanding di rumah asalnya, tetapi lebih aman" sejak pindah ke sebuah kota Bavaria pada November.

"Ketika saya membaca berita sekarang tentang hukum homofobia lain, setidaknya saya tahu saya tidak terlibat," kata dia kepada AFP.

Bagi imigran Balint Meiszterics yang pulang, kembali ke Hungaria dengan pasangannya setelah setahun di Inggris pada 2017, kembali bersama teman dan keluarga adalah keputusan yang dia sebut "mulai disesali".

"Kami tidak bisa menjalani kehidupan yang sama dengan orang hetero di Hungaria, kami tidak bisa menikah, kami tidak bisa mengadopsi," kata dia seraya menambahkan bahwa mereka mungkin akan segera pindah ke luar negeri lagi.

Menjelang pemilu parlemen 2022, Meiszterics, seorang pelatih perusahaan berusia 29 tahun, khawatir penargetan bisa meningkat menjelang pemilu itu.

"Saya hanya berharap mereka tidak pergi sejauh di Polandia di mana mereka memiliki zona bebas LGBT".

pmu/deh/tgb