Skandal 1MDB Sempat Membuat Kemenkeu Khawatir untuk Dirikan SWF Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Isa Rachmatawarta sempat khawatir mengenai pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia. Kekhawatiran itu datang karena melihat kasus skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

"Memang kekhawatiran bahwa LPI akan mengalami situasi yang sama sepetri 1MDB atau lembaga lain yang hantui reputasi tidak baik dalam kelola investasi itu menjadi pemikiran bersama," kata dia dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Senin (1/2/2021).

Meski begitu, kekhawatiran itu tidak menjadi besar karena pemerintah tengah menyusun SOP, tata kelola yang baik, hingga menyusun roadmap untuk LPI. Selain itu, pemilihan orang-orang tepat yang berada di dalam LPI pun tidak main-main, memiliki reputasi baik di bidangnya.

"Jadi segala aspek diusahakan dengan sungguh-sungguh berbagai upaya preventif akan diterapkan di sana. Namun akhirnya saat LPI ini sudah jalan yang juga paling penting adalah keterbukan disclosure trasnparansi dan akuntabiltias pada publik ini," kata dian.

Oleh karena itu, kehadiran LPI ini akan menjadi tugas bersama-sama untuk mengawasi jalannya investasi di Indonesia, agar tidak diselewengkan seperti yang terjadi di tempat lain.

Seperti diberitakan, Kementerian Kehakiman Amerika Serikat mengatakan ada sekitar USD 4,5 miliar dana dari 1MDB yang disalah gunakan. 1MDB adalah sebuah lembaga investasi yang didirikan oleh Najib pada 2009 dan Goldman Sachs telah membantu mengembangkan lembaga tersebut. Lembaga tersebut didirikan Najib pada awal masa pemerintahannya untuk mempercepat investasi di Malaysia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Chatib Basri: SWF Bisa Jalan Kalau Pandemi COVID-19 Selesai

Chatib Basri (Liputan6.com/Johan Tallo)
Chatib Basri (Liputan6.com/Johan Tallo)

Meski menyambut baik Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Indonesia Investment Authority (INA), mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri menilai kebijakan ini baru bisa jalan setelah pandemi COVID-19 usai.

"Ini SWF bisa jalan kalau pandemi selesai, karena mereka harus ke lapangan. Jadi kembali lagi dasarnya beresin pandemi terlebih dulu. Saya yakin ini akan berjalan dengan baik," kata dia dalam diskusi virtual, Jumat (29/1/2021).

Selain itu, Ekonom Senior ini juga menyebut SWF yang di Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Norwegia, Uni Emirat Arab dan Singapura. Hal tersebut karena ketiga negara tersebut membentuk SWF karena ada surplus.

"Kalau kita bukan surplus, kita buat SWF bukan karena kelebihan uang. Ini yang membuat SWF indonesia jadi unik," ujar dia.

Chatib juga menyebut, masalah investasi di Indonesia selama ini lebih kepada proyek yang asetnya bagus akan menjadi milik negara atau BUMN.

"Yang berbeda dari SWF ini adalah recycling aset yang dimungkinkan sekarang, karena Menteri Keuangan memperbolehkan transfer aset," ujar dia.

Ia juga menuturkan, bila Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menyebut, negara maju orangnya tidak kerja asetnya yang kerja. Namun, di Indonesia justru sebaliknya.

"Kemudian kita membuat asetnya yang kerja sehingga investor tertarik. Karena selama ini tidak mungkin karena itu aset negara. Jadi kalau ini bisa berjalan akan ada kejutan kalau minatnya besar," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: