Skandal Olahraga, Akhir Sadis Kisah Kecanduan Seks Bruno Fernandes

Robbi Yanto
·Bacaan 4 menit

VIVA – Sebuah kabar mengejutkan datang dari Brasil, negara yang terkenal sebagai surganya pemain sepakbola berbakat. Pada 2010 silam, muncul sosok yang menghebohkan dunia olahraga bernama Bruno Fernandes.

Tunggu dulu, ini bukanlah Bruno Fernandes jagoan baru Manchester United, melainkan Bruno Fernandes de Souza seorang yang kini berstatus sebagai mantan kiper klub Brasil, Flamengo

Bruno Fernandes menghebohkan dunia bukan karena ia mampu membawa Brasil juara Piala Dunia. Bukan juga karena membawa Flamengo menjuarai Copa Libertadores.

Bruno Fernandes terkenal karena skandal besar yang ia lakukan. Dia digiring menuju penjara karena menjadi aktor utama dalam hilangnya aktris dan model, Eliza Samudio.

Sungguh tega, Bruno melakukan pembunuhan yang sangat biadap. Dia menghabisi nyawa Eliza Samudio yang merupakan kekasihnya, kemudian dimutilasi. Apa penyebab Bruno melakukan perbuatan keji itu?

Semua bermula pada 21 Mei 2009. Eliza memberi tahu bahwa dia mengandung anak Bruno . Namun, Bruno malah memutuskan hubungan cinta mereka karena Eliza tak mau menuruti permintaannya untuk mengaborsi janin tersebut.

Setelah putus, Bruno tetap dengan sifat kencanduan seksnya. Dia berkencan dengan seorang dokter gigi bernama Ingrid Cavalcanti.

Ketidakpastian hubungan membuat Eliza mengajukan gugatan paternitas dan tunjangan anak terhadap Bruno. Namun, langkah itu semakin memperburuk keadaan.

Pada 13 Oktober, Eliza melapor polisi Rio De Janeiro bahwa Bruno dan beberapa temannya telah menculiknya dan memaksanya minum obat untuk melakukan aborsi.

Dia juga menuduh Bruno bersama rekan-rekannya itu memukulinya dan mengatakan kepada petugas bahwa Bruno menodongkan pistol ke kepalanya.

Bruno membantah hal itu dan menyebut Eliza telah berbohong. "Ini bukan pertama kalinya dia berbohong untuk membuatku dalam masalah," katanya dalam sebuah pernyataan," dilansir BBC.

"Dia tak bisa menerima kenyataan bahwa saya tidak ingin menjalin hubungan dengannya. Saya tidak akan memberikan waktu untuk wanita itu mencapai popularitas dengan tuduhannya," sambungnya.

Pada Februari 2010, Eliza melahirkan seorang bayi laki-laki di Sao Paulo, tempat dia tinggal bersama seorang teman. Eliza pun menamai anakn itu Bruno.

Lahirnya sang anak, buah dari hubungannya dengan Eliza tak membuat hati Bruno melunak. Dia tetap menolak bayi itu adalah anaknya, Bruno juga menolak untuk mengikuti tes DNA.

Tanpa bantuan finansial, Eliza dan anaknya cuma mengandalkan belas kasih dari teman-temannya.

Posisi Bruno saat itu semakin tersudut, kesengsaraan Eliza terus menjadi pemberitaan pers Brasil dan membuat nama baiknya semakin tergerus.

Menurut jurnalis Leslie Leitao, penulis Unsavable, sebuah buku terlaris tentang kasus Eliza, Eliza diminta oleh Bruno untuk berhenti bicara pada pers agar masalah mereka bisa cepat selesai.

Namun, itu hanya akal-akalan Bruno saja. Pada 10 Juni 2010, Sore itu, dia dan bayinya dibawa ke sebuah rumah di kota lain, Belo Horizonte.

Tega, Bruno menyewa Marcos Aparecido, seorang mantan polisi untuk menghabisi nyawa kekasihnya. Tak sampai disitu, setelah meninggal, jasad Eliza dipotong-potong dan diberikan ke anjing

Sementara Bruno mencoba menyembunyikan bayinya dari polisi setelah pencarian Eliza dimulai. Bayi Bruno ditemukan oleh petugas polisi di sebuah permukiman kumuh di Ribeirao das Neves, di pinggiran Belo Horizonte.

Bruno menyerahkan dirinya ke polisi Rio pada 7 Juli. Saat itu, penyidik sudah mendapatkan cukup bukti untuk menghubungkannya dengan kejahatan keji itu.

Dia dijatuhi hukuman 22 tahun penjara pada 2013. Aparecido dihukum dengan 36 tahun penjara, 22 tahun untuk pembunuhan Eliza dan 14 tahun untuk pembunuhan sebelumnya yang sudah diadili.

Pada Juli 2019, pengadilan di negara bagian Minas Gerais memberi Bruno hak untuk menjalani sisa hukuman dalam sistem semi terbuka, yang memungkinkan narapidana tidur di rumah.

Bruno lahir pada tanggal 23 Desember 1984 di Ribeirao das Neves, sebuah kota kelas pekerja di Brasil tenggara.

Seperti banyak anak miskin Brasil, dia melihat sepakbola sebagai cara untuk keluar dari kehidupan yang sulit. Dia berusia 12 tahun ketika dia mulai di akademi di Venda Nova, klub pengumpan Belo Horizonte.

Karena tinggi badannya - 6 kaki 2 inci bocah itu mudah dipilih untuk posisi penjaga gawang. Debut profesionalnya datang pada tahun 2004, saat bermain untuk Atletico Mineiro.

Penampilan apiknya di bawah mistar gawang sempat membuat klub Belanda AZ Alkmaar ingin merekrutnya. Namun, Bruno memilih hijrah ke Corinthians pada 2006.

Sayangnya, Bruno tak mendapatkan tempat utama dan langsung dipinjamkan ke Flamengo. Pada 2008, Flamengo mempermanenkan status Bruno.

Di 2017, meski sudah dijatuhi hukuman, ia sempat bergabung dengan Boa Esporte. Pada 2019, ia berstatus sebagai pemain Pocos de Caldas.

Pada 2020 kemain, Bruno mendapatkan tawaran kontrak dari klub amatir Esportivo Varzea Grandense.Namun, gelombang protes dari masyarakat Brasil membuat pihak klub membatalkan kontrak itu. Manajemen tim khawatir juika memaksakan kontrak Bruno akan berefek negatif pada klub.