Skandal Olahraga, Pembantaian Hari Ibu dan Laga Dendam Sang Ratu Tenis

Robbi Yanto
·Bacaan 3 menit

VIVA – Bicara perihal sejarah tenis dunia, para penggemar akan dibawa kembali ke salah satu skandal olahraga terbesar yang mengguncang dunia.

Pada 20 September 1973, terjadi pertarungan paling tidak masuk akal. Billie Jean King, seorang ratu tenis di dunia pada masanya. Dia berhasil meraih 39 gelar Grand Slam di semua nomor yang diikutinya.

Tribune lapangan Houston Astrodome, penuh sesak dengan 30.000 penoton. Tepuk tangan mengiringi kedatangan sang ratu tenis yang diarak duduk di atas tandu menyerupai singgasana berwarna emas, ditambah ornamen bulu-bulu besar berwarna merah muda.

Ini bukanlah pertarungan antara dua petenis putri terbaik di dunia. Lawan Billie Jean King merupakan mantan petenis putra Robert Larimore Riggs, alias Bobby Riggs.

Dia memang sempat bersinar. Tiga gelar Grand Slam, juara di US Pro dan Wembley Pro pernah diraihnya. Namun, kariernya terpaksa berhenti karena Perang Dunia II.

Pasti anda bertanya-tanya, berapa usia Bobby Riggs saat itu?. Seperti dijelaskan di atas, ini adalah pertarungan yang paling tidak masuk akal terjadi.

Sebabnya, pada 20 September 1973, Bobby Riggs sudah berusia 55 tahun. Logikanya, Bobby Riggs sudah tidak bisa lagi turun ke lapangan. Berbeda dengan Billie Jean King yang kala itu dalam usia emas 29 tahun. Selain itu, gender keduanya juga berbeda.

Ada satu alasan mengapa keduanya mau bertarung. Awal mulanya adalah di awal tahun 70-an, Bobby Riggs tidak setuju dengan tuntutan Billie Jean tentang hadiah yang setara antara , tenis putra dan putri.

Dia mengkritik tenis putri dengan cara yang paling sadis, "Tempat wanita adalah di dapur dan kamar tidur". Dan itu menjadi salah satu pernyataan kontroversial yang membuatnya mendapat julukan "chauvinis babi jantan." dilansir The Guardian.

Dia kemudian menantang Margaret Court, petenis yang menjadi saingan berat Billie Jean. Duel tersaji bertepatan dengan hari ibu 'versi' Amerika Mei 1973.

Bobby Riggs menguasai pertandingan, mengalahkan Margaret Court 6-2, 6-1. Dan, pada momen itulah dikenal dalam sejarah tenis sebagai "Pembantaian Hari Ibu".

Setelah kemenangan itu, Bobby Riggs semakin congkak, lalu menantang Billie Jean dengan ucapan provokasi. "Jika dia tidak bisa mengalahkan orang tua yang lelah, dia tidak pantas mendapatkan setengah dari adonannya." ucapnya.

“Saya bertanding untuk membela pria-pria muda yang diperbudak oleh kaum wanita. Suatu saat mereka akan menikah. Wanita-wanita itu harus dihentikan sekarang juga," ucapnya.

Akhirnya, tantangan diterima dan tibalah hari itu. 20 September 1973 yang disebut-sebut sebagai 'Battle of the Sexes'. Duel ini disaksikan oleh kurang-lebih 100 juta penonton televisi, dihadiri oleh sekitar 30 ribu penonton.

Ini adalah rekor pertandingan tenis dengan jumlah penonton terbanyak, bahkan sampai sekarang belum bisa dipecahkan oleh pertandingan tenis apa pun.

Sebelum pertandingan dimulai, tensi panas sudah terjadi. Keduanya saling bertukar hadiah yang tak biasa. Billie Jean menghadiahi lawannya babi kecil yang hidup, sebaliknya Bobby Riggs memberikan hadiah lolipop raksasa yang bertuliskan 'Sugar Daddy'.

Pertandingan dimulai dan saatnya balas dendam. Bobby Riggs hancur lebur bersama kesombongannya. Sang ratu tenis yang menduduki peringkat 1 dunia selama lima tahun menang dalam tiga set langsung, 6-4 6-3 6-3.

Billie Jean sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa tenis wanita dan wanita itu bukanlah lelucon. Usai pertandingan, dia mengucapkan komentar yang menohok.

"Dia bermain terlalu bagus. Dia bermain bagus dalam dirinya sendiri, dan saya tidak bisa mendapatkan hasil maksimal dari permainan saya. karena ini berakhir terlalu cepat," ucapnya.

Billie Jean kemudian menyatakan bahwa dia tidak menganggap mengalahkan Riggs sebagai pencapaian yang luar biasa tetapi kemenangan itu sangat melegakan baginya.

“Saya pikir itu akan membuat kami mundur 50 tahun jika saya tidak memenangkan pertandingan itu. Itu akan merusak dan mempengaruhi harga diri semua wanita," ujarnya.

"Mengalahkan pria berusia 55 tahun bukanlah kesenangan bagi saya. Sensasi itu mengekspos banyak orang baru ke tenis," tegasnya.