Skandal Olahraga, Neraka Timnas Italia Bernama Korea Selatan

Robbi Yanto
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebuah cerita membanggakan diukir Timnas Korea Selatan kala menjadi tuan rumah di Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Mereka berhasil melaju sampai semifinal sebelum akhirnya dihancurkan Jerman.

Keberhasilan Korea Selatan turut mengangkat sepakbola Asia. Bersama Jepang, kedua tim itu sukses keluar dari fase grup.

Korsel mengerikan. Mereka lolos dengan status juara grup, meski harus bersaing dengan tim-tim besar seperti Portugal, Amerika Serikat, dan Polandia. Sedangkan Jepang lolos ke babak 16 besar.

Tapi, keperkasaan Korsel berbuntut panjang. Ada banyak kontroversi yang muncul hingga kemarahan Timnas Italia.

Daejeon World Cup Stadium, pada 18 Juni 2002 berubah menjadi neraka bagi Timnas Italia. Dalam laga 16 besar, Gli Azzurri benar-benar dibuat tersiksa.

Skandal dimulai. Ketika laga baru berjalan lima menit, wasit Byron Moreno memberikan hadiah penalti untuk Korea setelah Panucci menjatuhkan Seol Ki-Hyeon di kotak terlarang.

Situasi itu masih bisa teratasi, Gianluigi Buffon tampil apik dan menggagalkan tendangan Ahn Jung-Hwan. Laga kemudian berlanjut dan menjerumus kasar.

Pemain-pemain Italia benar-benar tersiksa dengan pelanggaran-pelanggaran yang dibuat Korsel. Meski begitu, Moreno seakan menutup mata dengan permaianan kasar yang diperagakan tuan rumah.

Momen-momen kasar seperti tendangan Sang-Chul Yoo ke kepala Paolo Maldini, sikutan telak Jin-Cheul Choi pada wajah Del Piero, tekel keras dari arah belakang yang dilakukan Nam-Il-Kim terhadap Gianluca Zambrotta sama sekali tidak dianggap pelanggaran.

Para pemain Italia melakukan protes, tapi Moreno membisu dan tetap pada pendiriannya. Sebaliknya, sentuhan kecil pemain Italia ke Korsel berbuah pelanggaran.

Italia kemudian berhasil menunjukkan kebesarannya. Pada menit ke-18 mereka unggul 1-0 setelah sepak pojok Francesco Totti dikonversi menjadi gol oleh Christian Vieri via sundulan.

Kemenangan Italia buyar ketika laga tersisa dua menit. Seol Ki-Hyeon mengoyak jala Buffon dan memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu.

Italia semakin menderita. Menit 103, Moreno mengusir Totti karena dianggap melakukan diving di kotak penalti saat berduel dengan Song Chong-gug. Padahal, pada tayangan ulang, pemain AS Roma tersebut benar-benar dilanggar.

Kekejaman Moreno selanjutnya terjadi ketika menganulir gol Damiano Tommasi. Keputusan itu membuat pelatih Italia Giovanni Trapattoni marah besar.

Kehancuran Italia akhirnya tiba menit ke-117. Korsel mencetak gol kemenangan via Ahn Jung-hwan dan memaksa laga berhenti karena menerapkan sistem golden goal.

Para pemain Italia tak percaya, perjalanan mereka di Piala Dunia pun tamat terlalu cepat. Sedangkan Korsel melanjutkan drama hingga babak semifinal.

Di perempatfinal, Spanyol mengalami hal yang sama dengan Italia. Dua gol Spanyol dari Ruben Baraja dan Luis Enrique dianulir wasit Gamal Al-Ghandour. Duel berakhir 0-0 hingga babak tambahan berakhir dan laga dilanjutkan ke adu penalti.

Benar-benar hari yang buruk bagi Spanyol, di babak adu penalti Iker Casillas gagal menyelamatkan satu pun tendangan pemain Korsel.

Sementara itu, sepakan pelan Joaquin bisa dengan mudah ditebak kiper Korsel, Lee Woon-jae. Spanyol pun harus pulang, dan Korsel melaju ke semifinal dan berhadapan dengan Jerman.

Kesengsaraan Italia dan Spanyol tampaknya sudah dipelajari Jerman. Mereka berhasil mengubur Korsel di depan puluhan ribu suporternya dengan kemenangan 1-0. Gol kemenangan Jerman dicetak Michael Ballack.

Kejahatan Moreno kepada Italia tampaknya menjadi karma baginya. Pada 8 November 2002, Moreno mengundurkan diri sebagai pengadil lapangan. Keputusan itu diambil setelah dia dicoret dari daftar wasit FIFA.

Beberapa tahun kemudian, Moreno terlibat kasus hukum akibat mencoba membawa 13 kilogram narkotika masuk ke Amerika Serikat. Alhasil, Moreno harus mendekam dalam tahanan selama 26 bulan lamanya.

Moreno sempat angkat bicara terkait aksinya yang membuat masyarakat Italia dendam. Dia mengakui beberapa keputusannya pada laga tersebut salah. Namun, dia menolak minta maaf karena merasa banyak keputusannya sudah fair.

"Saya mungkin telah membuat beberapa keputusan yang salah, tapi saya tak perlu meminta maaf. Soal gol Italia, harus diakui bahwa itu harusnya disahkan, tapi bagaimana saya membuat keputusan dari tempat saya berdiri," kata Moreno kepada Futbol Sin Cassette.

"Saya harus tahu dari hakim garis. Dia mengangkat benderanya dan saya mengikutinya. Saya memberikan nilai delapan kepada diri saya sendiri," sambungnya.


Mau tahu skandal yang menyeret para atlet dunia lainnya? Skandal Olahraga akan hadir setiap harinya. Simak terus di VIVA.co.id.