Skandal Rudapaksa Gadis Belia Solo di Balik Viral 'Mobil Goyang'

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Solo - Tidak manuasiawi memang yang dilakukan oleh pria berinisial HDC asal Banyuanyar, Surakarta ini. Ia yang juga bos kuliner itu tega merudapaksa VDA, anak di bawah umur dengan iming-iming akan dibiayai pendidikannya. Tak hanya itu, HDC juga mencekoki korban dengan minuman keras. Kasus tersebut sempat viral di media sosial saat ada mobil goyang di Solo.

HDC merudapaksa VDA di dalam mobil miliknya beberapa waktu lalu pada September 2021. Kejadian itu juga sempat viral di media sosial wilayah Solo Raya.

Kapolresta Surakarta, Kombes Pol ade Safri Simanjuntak didampingi Kasatreskrim AKP Djohan Andika menjelaskan HDC telah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus rudapaksa gadis di bawah umur, berinisial VDA di dalam mobil pribadinya.

Kombes Pol Ade menyebut dari keterangan pihak kepolisian keduanya bertemu di sebuah kafe di kawasan Purwosari, Laweyan.

"Dari pertemuan itu korban ditawari minuman keras. Setelah selesai, pelaku menawari korban untuk diantar pulang," kata Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak di Mapolresta Surakarta, Rabu (24/11/2021).

Kombes Pol Ade melanjutkan, korban diajak meminum minuman keras seraya melancarkan aksinya dengan mengiming-imingi korban segala macam urusan finansial.

Tragedi Mobil Goyang Viral

Selanjutnya, ketika sudah memasuki larut malam, tersangka mengantar korban pulang ke rumahnya dan pada saat itulah tersangka merudapaksa korban di dalam mobil milik tersangka. Pada saat peristiwa terjadi keadaan mobil sempat direkam warga dan viral dengan keterangan mobil goyang.

"Setelah itu korban bercerita ke keluarga dan dilanjutkan membuat laporan ke kami. Pelaku kemudian kita amankan beserta sejumlah barang bukti," tutur dia.

Sementara itu, atas laporan korban dan keluarganya, pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan penangkapan tersangka. Tersangka diamankan bersama barang bukti sebuah mobil BMW, botol miras, dan juga pakaian korban.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal berlapis yaitu Pasal 81 ayat (2) jo Pasal 76D dan/atau Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76E UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang.

Lalu, Pasal 89 ayat (2) jo p Pasal 76J ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling singkat 5 tahun paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Kemudian Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76E dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 tahun paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel