Skateboard dan kisah dua anak sekolahan menggebrak Tokyo 2020

·Bacaan 6 menit

Bayangkan dua anak kelas satu SMP bertanding di level teratas kompetisi olah raga dunia yang kendati tak disaksikan penonton karena aturan pembatasan terkait COVID-19 melarang ada penonton Olimpiade Tokyo 2020 di dalam stadion, tetap saja memberikan tekanan yang bisa terlalu berat untuk anak yang menginjak dewasa pun belum.

Itulah yang terjadi ketika dua atlet muda belia bertarung dalam final street putri skateboard atau papan luncur Olimpiade 2020 di Ariake Sports Park, Tokyo, Senin, bersama dengan enam atlet lain yang salah satunya berusia 34 tahun.

Kedua anak gadis ini sungguh bocah-bocah istimewa. Mereka membuat dunia sejenak berpaling kepada skateboard yang baru kali ini dilombakan dalam Olimpiade.

Baca juga: Gadis 13 tahun jadi perempuan pertama rebut emas skateboard Tokyo 2020

Yang satu namanya Momiji Nishiya dari Jepang. Satunya lagi Raysaa Leal dari Brazil.

Sebelum berhadapan dalam Olimpiade Tokyo, mereka masing-masing merupakan runner up dan peringkat ketiga kejuaraan dunia skateboard di Roma pada 2021.

Nishiya berusia 13 tahun 330 hari, sedangkan Leal 13 tahun 203 hari. Di Indonesia, bocah seumur itu masih duduk di bangku kelas satu SMP.

Nishiya merebut medali emas nomor ini, untuk kemudian menjadi salah satu Olimpian termuda yang menyabet medali emas sepanjang masa.

Dia hanya dua bulan lebih tua dari Marjorie Gestring yang menjadi atlet termuda sepanjang masa ketika menjuarai loncat indah papan 3 meter putri pada Olimpiade Berlin 1936.

"Saya senang sekali menjadi (atlet Jepang peraih medali emas) termuda, dalam Olimpiade pertama saya," kata Nishiya kepada wartawan seperti dikutip AFP.

"Saya gugup pada run pertama tetapi setelah itu tak gupup lagi," sambung Nishiya yang bertekad mengulangi pencapaian ini pada Olimpiade Paris 2024.

Lawan terberatnya, Raysaa Leal, nyaris memecahkan rekor Marjorie Gestring sebagai peraih medali emas Olimpiade termuda sepanjang masa.

Namun atlet Brazil ini harus puas dengan medali perak setelah mengumpulkan poin lebih rendah dibandingkan dengan Nishiya yang membukukan skor 15,26 poin. Leal sendiri mencatat skor 14,64 poin.

Skater ketiga yang naik podium adalah atlet Jepang berusia 16 tahun, Funa Nakayama. Dia memperoleh perunggu setelah mengumpulkan skor 14,49 poin.

Selain Momiji Nishiya dan Raysaa Leal, ada satu lagi gadis berusia 13 tahun yang bertanding dalam skateboard Tokyo 2020.

Namun yang satu ini tidak berlomba pada nomor street, melainkan pada nomor spesialisasinya, park. Dia adalah Sky Brown, dari Britania Raya.

Baca juga: Yuto Horigome sabet emas Tokyo 2020 dari cabang debutan skateboard


Untuk audiens muda Olimpiade

Tiga gadis kecil itu telah dan akan menggebrak dunia, bahkan mereka melakukannya pada cabang olah raga yang sampai kini sering diasosiasikan dengan dunia laki-laki itu.

Mengenai anggapan ini, Raysaa Leal memiliki pandangan lebih progresif dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Ketika ditanya wartawan bagaimana tanggapannya terhadap anggapan awam bahwa perempuan tak boleh bermain skateboard, Leal mantap menjawab bahwa olah raga seharusnya sebuah dunia yang tidak mengenal batas gender.

"Enggak benar jika ada anggapan ‘ya kamu harus belajar’, kamu enggak usah skating karena skating itu untuk anak laki," kata Leal seperti dikutip Reuters. "Saya kira skateboarding itu untuk semua orang."

Leal benar, seperti pada cabang olah raga lainnya, skateboard seharusnya untuk semua orang, tidak peduli perempuan atau laki-laki.

Itu sama halnya dengan pandangan bahwa tak elok membiarkan skateboard terus di jalanan ketika anak-anak muda seluruh dunia memainkannya, kendati kebanyakan tidak untuk berkompetisi.

Tak heran jika Komite Olimpiade Internasional (IOC) memasukkan skateboard pada daftar cabang olah raga yang dilombakan di Tokyo 2020 yang sekaligus menandai untuk pertama kalinya skateboard masuk Olimpiade.

Baca juga: Skateboard jalani debut bersejarah di Olimpiade Tokyo

Sebagai bagian dari upaya merengkuh pemirsa muda olah raga, skateboarding mengikuti langkah snowboarding atau seluncur salju yang masuk Olimpiade Musim Dingin 1998, dengan menjadi salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan dalam Olimpiade.

Mencerminkan muasal cabang olah raga ini yang besar dan populer di jalanan dan taman, maka Olimpiade Tokyo melombakan dua disiplin yakni street dan park yang masing-masing memiliki dua nomor putra dan putri.

Kompetisi street diperlombakan dengan memasukkan rintangan-rintangan khas jalanan, yakni stair atau anak tangga dan rail.

Skateboard adalah satu dari enam cabang olah raga yang baru dilombakan dalam Olimpiade mulai Tokyo 2020. Lima lainnya adalah surfing atau selancar, sport climbing atau panjat tebing, karate, BMX gaya bebas, dan bola basket 3X3.

Kecuali karate, lima cabang olah raga baru Olimpiade ini akrab dengan anak muda.

Dan audiens anak muda pula yang dibidik oleh IOC, bahkan beberapa di antaranya lebih personal seperti saat membidik skateboarder terkenal dari Amerika Serikat, Nyjah Huston.

Menurut The Guardian, penyelenggara Olimpiade bahkan berharap Huston yang memiliki 4,7 follower di Instagramnya menjadi magnet yang membetot kaum muda di seluruh dunia guna mengikuti Olimpiade.

Baca juga: Tim skateboard Australia terpaksa mundur dari kualifikasi Olimpiade


Bukan sekadar olah raga

Tapi masuknya skateboarding ke Olimpiade sebenarnya tidak pernah mudah karena ditentang para penggemar olah raga ini yang bersikukuh skateboarding bukan untuk dikompetisikan, apalagi diasosiasikan dengan mencari keuntungan dari sponsor, iklan atau hak siar.

"Memang ada sisi atletiknya, tetapi ini juga gaya hidup," kata Charlotte Hym, anggota tim skateboard Prancis kepada FRANCE 24. "Banyak video, grup musik, seni, yang terhubung kuat dengan skateboarding."

"Seharusnya ini tak boleh dianggap cabang olah raga dalam makna yang kaku," timpal rekannya, Vincent Milou. "Ini lebih merupakan keadaan pikiran."

Tapi di banyak tempat, skateboarding dianggap kegiatan yang melanggar hukum, sampai-sampai dilarang di tempat umum dan bahkan sering berurusan dengan polisi.

Saat bersamaan, skateboarding pelan-pelan menjadi kegiatan arus utama, berkat kompetisi-kompetisi skateboard seperti X Games yang sudah diadakan sejak medio 1990-an dan juga karena video game seperti Pro Skater yang dirilis pada 1999.

Skateboarding juga menjadi bagian budaya pop yang merentang dari musik sampai film, bahkan sepanjang 2018 ada tiga film besar berlatarkan skateboard.

Baca juga: Dua atlet skateboard Indonesia ikuti kualifikasi Olimpiade ke AS

Kini penerimaan arus utama kepada skateboarding mencapai level baru setelah cabang olah raga ini melakukan debut dalam Olimpiade Tokyo, dengan melombakan dua disiplin; park dan street, putra dan putri.

Aurelien Giraud, juga anggota kontingen skateboard Prancis untuk Tokyo 2020 dan berlomba pada nomor street putra, mengkritik mereka yang menentang skateboard masuk Olimpiade.

"Mereka yang anti Olimpiade adalah yang anti kompetisi. Bagi mereka, tempat skateboarding itu di jalanan," kata dia. "Saya harap Olimpiade ini membuat orang kian ingin mendalami olah raga ini, tapi orang semestinya jangan menggeluti skateboarding hanya karena ingin ke Olimpiade."

Kelvin Hoefler dari Brazil dan Jagger Eaton dari Amerika Serikat yang memperoleh medali perak dan perunggu nomor street putra Tokyo 2020 yang dijuarai atlet Jepang Yuto Horigome, sependapat dengan sejawat-sejawatnya dari Prancis itu.

"Skateboarding itu jauh lebih besar dari sekadar cabang olah raga, ini bentuk seni," kata Eaton setelah menyelesaikan final street putra itu kemarin.

"Ini gerai kreatif. Hanya saja banyak orang yang belum melihatnya dalam cara seperti itu," sambung dia seperti dikutip Reuters.

Hoefler sependapat dengan Eaton. Dia juga berharap Olimpiade Tokyo membuat semakin banyak orang yang mendalami skateboard.

Baca juga: Uji coba skateboard untuk Olimpiade Tokyo ditunda Mei

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel