Skenario Pemprov DKI Terapkan Protokol Kesehatan Ketat di Lokasi Pengungsian Banjir

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan akan meningkat dampak dari fenomena La Nina. Kondisi tersebut diprediksi BMKG berpotensi menimbulkan bencana banjir.

Sejurus dengan itu, ancaman banjir pun mengintai Ibu Kota. Meski begitu, protokol kesehatan ketat harus tetap dijalankan, sekalipun di lokasi pengungsian.

Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan skenario jika banjir datang dan penyiapan tenda-tenda pengungsian.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Widyastuti mengatakan, ada beberapa prinsip di pengungsian untuk mencegah penyebaran COVID-19.

"Diantaranya, pengelompokan berdasarkan keluarga, menjaga jarak antarkelompok pengungsi, dan mengatur jumlah pengungsi agar tidak berlebihan," kata dr Widyastuti.

Dia melanjutkan, pemisahan tetap diberlakukan. Pengungsi yang diketahui suspek, kontak erat, probable dan konfirmasi positif harus dipisahkan dengan pengungsi lain.

Tak hanya sampai di situ, pemeriksaan swab juga dilakukan terhadap pengungsi dengan kriteria suspek dan kontak erat. Setelah diperoleh hasilnya, petugas kesehatan yang ada di lokasi akan merujuk pengungsi ke fasilitas isolasi terkendali dan rumah sakit rujukan COVID-19 jika diperlukan.

"Memisahkan pengungsi kelompok rentan, seperti bayi, balita, lansia, penyandang disabilitas serta pengungsi dengan komorbid atau penyakit penyerta semisal diabetes, penyakit jantung, kanker, asma, dan lain sebagainya," jelas dr Widyastuti.

Sementara, khusus untuk ibu hamil usia lebih dari 39 minggu dan bayi kurang dari 3 bulan akan dirawat langsung di Puskesmas.

Untuk yang terpaksa tinggal di tenda pengungsian, kampanye 3M harus tetap dijalankan. yakni mencuci tangan dengan sabun di air mengalir atau memakai hand sanitizer, memakai masker, melaksanakan etika batuk, dan menjaga jarak minimal 1 meter.

"Menaati aturan keluar masuk ke pengungsian, misalnya dengan menerapkan screening antara lain pengukuran suhu tubuh dan wawancara singkat gejala ke arah COVID-19," ujar dia.

Kemudian, pihak Pemprov juga menyediakan pos kesehatan secara mobile. Untuk jumlah pengungsi kurang dari 150 orang, pos kesehatan bergerak dari 1 titik ke titik pengungsian lainnya. Namun untuk lokasi pengungsian yang dihuni lebih dari 150 orang, pos kesehatan akan siaga di lokasi.

"Disesuaikan dengan kebutuhan di lokasi bencana. Salah satu tugas Dinas Kesehatan adalah memberikan pelayanan kesehatan di tempat pengungsian," terang dr Widyastuti.

Dia juga memastikan, sesuai pedoman pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan pada masa COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan juga tetap menyediakan tenaga kesehatan di setiap posko pengungsian banjir.

"Guna menunjang pelaksanaan pelayanan kesehatan optimal sesuai prinsip-prinsip untuk mencegah terjadinya penularan COVID-19 di tempat pengungsian," imbuh dia.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengimbau masyarakat terdampak bencana banjir dan terpaksa mengungsi agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Dia meminta masyarakat memanfaatkan tempat penginapan layak untuk mengungsi.

"Bagi masyarakat apabila memungkinkan agar dapat menghindari lokasi pengungsian di tenda jika tidak terpaksa. Selain itu manfaatkan tempat tempat penginapan yang terdekat sebagai lokasi pengungsian," kata Wiku.

Wiku juga mengingatkan masyarakat yang terdampak bencana agar memiliki masker cadangan, handsanitizer, hingga alat mandi pribadi saat di tempat evakuasi. Dia juga berharap tempat pengungsian didesain untuk masyarakat menjaga jarak serta dilengkapi dengan petugas pengungsian.

"Bagi masyarakat tetap patuhi protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak selama berada di lokasi pengungsian). Ingat protokol kesehatan merupakan langkah yang penting untuk melindungi diri kita dan orang-orang terdekat dari Covid-19," ungkap Wiku.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: