SKK Migas: Industri hulu migas jadi penggerak ekonomi daerah

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan industri hulu migas menjadi roda penggerak ekonomi daerah karena sektor ini memiliki peran untuk mengembangkan sumber daya manusia, penyerapan tenaga kerja lokal maupun pemasok bahan bakar untuk sistem kelistrikan dan industri lokal.

"Sektor migas tidak hanya sebagai revenue generator, namun penggerak roda perekonomian di tingkat nasional maupun daerah," katanya dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Dwi mencontohkan proyek pengembangan lapangan Banyu Urip di Blok Cepu mampu berkontribusi hingga Rp2,18 triliun untuk Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Proyek migas senilai lebih dari 3 miliar dolar AS tersebut memproduksi 200 ribu barel minyak per hari dengan melibatkan 18 ribu pekerja dan 460 subkontraktor yang menumbuhkan jasa pendukung berupa hotel, rumah makan, transportasi, dan lainnya.

"Perekonomian Bojonegoro tumbuh sebesar 19,47 persen tahun 2015. Hal ini menggambarkan pentingnya pengembangan sektor hulu migas untuk menggerakkan perekonomian," kata Dwi.

Saat ini, industri hulu migas membutuhkan dukungan stakeholder di daerah melalui pelayanan kemudahan berusaha dan berinvestasi.

"Memperkuat hulu migas dengan stakeholder daerah akan menjadi elemen penggerak ekonomi, sehingga dapat mewujudkan kemajuan bagi Indonesia," kata Dwi.

Dalam pengembangan sektor industri hulu migas, daerah juga memiliki peran melalui Participating Interest (PI) sebesar 10 persen dengan melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Melalui PI 10 persen itu, pemerintah daerah menerima pendapatan dana bagi hasil pengelolaan migas yang berada di wilayahnya.

Diketahui, jumlah alokasi dana bagi hasil migas tahun 2019 mencapai Rp30,9 triliun secara nasional dengan rincian Rp22,2 triliun diperoleh kabupaten maupun kota dan Rp8,7 triliun diperoleh provinsi.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen migas.

Cekungan yang sudah berproduksi berjumlah 20 cekungan sedimen dan 27 cekungan lain sudah ada temuan, namun belum berproduksi karena berkaitan dengan keekonomian.

Adapun sebanyak 68 cekungan yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia baik onshore maupun offshore masih belum dilakukan eksplorasi mengenai kandungan hidrokarbon.

Baca juga: SKK Migas: Hulu migas butuh penyederhanaan & percepatan perizinan
Baca juga: SKK Migas dukung pengembangan potensi gas di Maluku
Baca juga: Proyek gas Jambaran-Tiung Baru ditargetkan beroperasi November 2021