Skor PISA Indonesia di Bawah Rata-Rata, Nadiem: Jadi Masukan Evaluasi

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pendidikan akan mempelajari hasil studi Programm for International Student Assessment (PISA) 2018. Dalam kajian itu, performa Indonesiua di bidang pendidikan mengalam penurunan. Terkait itu, Mendikbud Nadiem Makarim mengaku akan mempelajari temuan itu.

"Sedang kami kaji. Sudah ada laporannya memang ada penurunan dan hal-hal lain yang positif,” ucap Nadiem di Univesitas Indonesia, Rabu (4/12/2019).

Nadiem menyampaikan bahwa penilaian yang dilakukan PISA merupakan masukan berharga untuk mengevaluasi dan membenahi sistem pendidikan di Indonesia.

"Hasil penilaian PISA menjadi masukan yang berharga untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang akan menjadi fokus Pemerintah selama lima tahun ke depan. Menekankan pentingnya kompetensi guna meningkatkan kualitas untuk menghadapi tantangan abad 21,” lajut dia di dalam keterangan tertulis.

Dia menjelaskan, Kemendikbud akan melakukan inovasi dan terobosan yang diperlukan untuk mempercepat proses dan melakukan lompatan di bidang pendidikan. 

Salah satu yang sedang dikaji Kemendikbud adalah pembenahan sistem asesmen. Menurut Mendikbud, asesmen perlu dibuat agar fokus pada kompetensi mendasar yang berguna secara luas.

Hasil asesmen juga akan dilaporkan dalam bentuk yang bermanfaat bagi perbaikan praktik pengajaran di kelas maupun perumusan kebijakan pendidikan.

"Kita harus berani berubah dan berbenah. Sesuai dengan arahan Presiden untuk menciptakan SDM unggul, kami akan terus menelaah upaya untuk melakukan terobosan-terobosan," ucap dia.

"Peningkatan kualitas pembelajaran menjadi hal yang utama. Kami akan terus melibatkan guru dan orang tua. Penting bagi Pemerintah untuk memberikan ruang bergerak yang cukup untuk pihak-pihak terkait dapat terlibat dan ikut belajar,” imbuh dia. 

Sebelumnya, Survei Programm for International Student Assessment (PISA) 2018 merilis performa Indonesia pada tahun 2018 terbilang menurun dibandingkan 2015.

Studi pada 2018 ini menilai 600 anak berusia 15 tahun di 79 negara setiap tiga tahun sekali. Ada tiga aspek yang diperbandingkan diantaranya kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: