SKSG-UI sosialisasikan permukiman bebas asap rokok turunkan stunting

Pengabdian Masyarakat Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG-UI) menyelenggarakan sosialisasi mengenai permukiman bebas asap rokok guna membantu pemerintah menurunkan angka prevalensi stunting.

“Pajanan asap rokok terhadap ibu hamil ataupun langsung kepada anak menyebabkan kerentanan penyakit kronis serta lingkungan yang tidak sehat. Hal ini juga berdampak pada keparahan kondisi anak yang menjadi stunting,” kata Ketua Tim Pengmas SKSG-UI Renny Nurhasana dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Dalam sosialisasi bertajuk “Hubungan Perilaku Merokok dan Stunting melalui Permukiman Sehat yang Ramah Lingkungan Bebas Asap Rokok” yang digelar di wilayah kerja Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Senin (7/11) itu, ia menuturkan sosialisasi merupakan implementasi dari Pengmas SKSG-UI pada Rencana Aksi Nasional (RAN) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia Tahun 2021-2024.

Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menyebut prevalensi balita stunting di Indonesia masih sebesar 24,4 persen, di mana salah satu provinsi yang juga memiliki prevalensi stunting yang tinggi adalah Jawa Barat 24,5 persen.

Sebagai salah satu faktor stunting, rokok menyebabkan anak-anak dari orang tua perokok kronis memiliki pertumbuhan berat badan secara rata-rata lebih rendah 1,5 kilogram dan pertumbuhan tinggi badan secara rata-rata lebih rendah 0,34 sentimeter dibandingkan dengan anak-anak dari orang tua yang tidak merokok.

Baca juga: Teten: Kata Chef Juna, minyak makan merah mengunggah selera

Konsumsi rokok terbukti menyebabkan kemiskinan pada keluarga, seperti di Desa Cibitung, karena lebih mementingkan untuk membeli rokok dibandingkan kebutuhan pokok keluarga.

“Banyak masyarakat yang belum mengetahui kaitan antara perilaku merokok dengan stunting, rata-rata anak mulai merokok di Kabupaten Bogor terbilang dini, yaitu pada rentang usia 10-14 tahun serta belum adanya media edukasi terkait bahaya perilaku merokok dengan stunting,” katanya.

Menurutnya, salah satu tindak lanjut nyata setelah sosialisasi berlangsung adalah kader akan meneruskan informasi kepada warga, terutama remaja, ibu hamil, dan ibu yang memiliki balita. Kader telah sepakat untuk memiliki program penerapan rumah tanpa asap rokok pada keluarga di Desa Cibitung.

Baca juga: Pakar ingatkan buruknya fasilitas sanitasi bisa jadi penyebab stunting

Renny berharap, sosialisasi dapat meningkatkan pemahaman warga mengenai kaitan perilaku merokok dan stunting, adanya perubahan kesadaran menghindari merokok pada warga dan kesadaran menjaga udara dari pencemaran asap rokok di Kecamatan Tenjolaya.

“Berikutnya, kader akan melaporkan hasil sosialisasi dan hasil rumah tanpa asap rokok demi menciptakan lingkungan, khususnya Desa Cibitung menjadi permukiman sehat yang ramah lingkungan bebas asap rokok. Dimulai dari dalam rumah, yang diharapkan dapat meluas ke seluruh bagian desa,” katanya.

Ketua Kader Desa Cibitung Siti Komariah berharap, warga dapat lebih memahami bahaya rokok terhadap stunting.

Dirinya mengaku, hal itu merupakan tantangan baru bagi para kader untuk sosialisasi ke masyarakat.

Baca juga: Kader kesehatan bisa berkolaborasi deteksi stunting anak
Baca juga: Mendagri: Lengkapi layanan faskes percepat turunkan stunting
Baca juga: Menko PMK: Penanganan stunting libatkan semua kementerian dan lembaga