SMA 70 dan 6 Tidak Akan Direlokasi

Jakarta (ANTARA) - Sekolah SMA 70 Bulungan dan SMA 6 Mahakam tidak akan direlokasi untuk lahan dan kepentingan bisnis seperti "shopping mall" atau perkantoran karena dalam perencanaan DKI Jakarta kawasan Bulungan dan Mahakam merupakan kawasan pendidikan.

"Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo telah menegaskan tidak ada rencana relokasi, ruislag, atau menggabungkan SMA 6 Mahakam dan SMA 70 Bulungan karena kawasan ini memang untuk pendidikan," kata Kepala Sekolah SMA 6 Kadarwati Mardiutama, dalam acara urun rembug di SMA 70 Bulungan, Jakarta, Minggu.

Ia menegaskan hal itu dari Gubernur Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, dalam pertemuan langsung di tengah kuatnya isu dan rencana relokasi SMA 70 Bulungan dan SMA 6 Mahakam yang seringkali para pelajarnya melakukan tawuran.

Sementara itu, Ketua Komite SMA 70 Bulungan, Ricky Agusiady mengatakan, isu relokasi kedua SMA sebagai kawasan komersial bukanlah isapan jempol belaka, bahkan isu ini sudah lama beredar. "Oleh karena itu, tawuran kedua pelajar SMA 70 Bulungan dan SMA 6 Mahakam memang sudah dirancang (by design)," katanya.

"Mereka menggunakan para mantan alumni (baru lulus dua atau tiga tahun) yang nganggur atau tidak kuliah untuk terus memprovokasi dan pelopori perkelahian di antara kedua pelajar SMA yang bertetangga sehingga menjadi alasan yang kuat untuk merelokasi kedua sekolah ini dan menjadikan sebagai lahan komersial dan bisnis, atau menggabungkan kedua SMA ini," katanya.

Ia mengaku sudah beberapa kali rapat dengan dinas pendidikan dan beberapa instansi terkait, isu relokasi dan penggabungan sudah menjadi suatu solusi atau wacana jika tawuran kedua sekolah masih terus berlanjut dan tidak bisa dihentikan sama sekali.

"Oleh karena itu, kami menyambut baik sekali peran serta para alumni untuk ikut terlibat dalam masalah tawuran pelajar ini karena tindakan dan kegiatan para pelajar di luar sekolah sudah merupakan tanggungjawab bersama yakni orang tua murid, masyarakat dan alumni," katanya.

Para alumni yang hadir acara urun rembug yang diprakarsai Iluni SMA 70`86 menyoroti peran aparat kepolisian yang seolah-olah kurang antisipasi terhadap tawuran para pelajar kedua sekolah, walau sudah seringkali terjadi. Bahkan tiap Jumat sore sering terjadi tawuran sehingga hari tersebut dikenal sebagai "Hari Tawuran Nasional" di kalangan kedua pelajar SMA tersebut.

Ketua Komite SMA 70 Bulungan Ricky mengatakan, aparat kepolisian sudah punya daftar dan foto para alumni yang diduga selalu melakukan provokasi dan pelopori tawuran namun tidak pernah ada tindakan tegas. "Aparat kepolisian Jakarta Selatan pernah punya rencana menangkap mereka tapi hingga kini tidak ada tindakan," katanya.

Bahkan posko polisi yang dibangun di gedung kesenian Bulungan yang dibangun dua komite SMA 70 Bulungan dan SMA 6 Mahakam, tidak pernah diisi oleh aparat kepolisian. Padahal posisinya ditengah-tengah antara kedua SMA tersebut dan dibangun untuk mencegah tawuran pelajar yang sering kali terjadi.

Urun rembug merupakan salah satu kegiatan Iluni 70`86 yang akan melakukan reuni perak (25 tahun) pada Minggu, 9 Oktober 2011, di SMA 70 Bulungan. Selain acara temu kangen, reuni 70`86 juga melakukan renovasi lapangan basket di SMA 70 Bulungan dengan standar internasional, sebagai salah satu warisan dari reuni tersebut.

"Kami mau mengadakan reuni dan acara tersebut meninggalkan kesan baik. Tidak hanya temu kangen dan hiburan tapi juga merenovasi lapangan basket yang sudah rusak berat menjadi suatu warisan bagi almamater. Urun rembug ini juga merupakan upaya pro aktif para alumni untuk ikut bagaimana menyelesaikan masalah tawuran para pelajar dengan mendengarkan dari semua pihak terkait," kata Adi Lazuardi, Ketua Iluni 70`86 sekaligus ketua panitia reuni itu.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.