SMAN 1 Caringin Bikin Studio Khusus Latih Guru-guru Gaptek

Ezra Sihite, Muhammad AR (Bogor)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aturan pemerintah untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui daring atau via internet tak sepenuhnya dikuasai para guru, sehingga masih ditemukan guru gagap teknologi alias gaptek yang tak menguasai cepat gawai dan teknologi. Untuk mengatasi persoalan ini, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Caringin Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengubah tiga kelasnya menjadi studio yang didampingi operator.

"Ada beberapa guru yang tidak mampu bisa menguasai belajar teknologi dengan cepat. Sementara saat ini harus mengunakan teknologi dengan cepat. Maka kami fasilitasi mereka dengan di siapkan tiga studio hingga jadwal yang terstuktur," kata Wakil Kepala SMA Bidang Kurikulum Yuliani Taufik diwawancarai VIVA.

Yuliani menjelaskan, selama mengajar guru didampingi operator yang dijuluki host dalam memandu ruang kelas daring dalam studio ini. Kelas studio juga dirancang sepersis mungkin dengan kelas tatap muka. Di sana juga dipantau guru Bimbingan Konserling (BK) yang memantau kegiatan siswa.

"Guru BK yang memantau sikap perilaku anak selama kelas berlangsung membuat tiga studio untuk mempermudah pelaksanaannya dan penjadwalannya agar lebih sistematis. Pembelajaran dibagi tiga termin hari Senin, Selasa, Rabu, untuk tiga studio. Kemudian Rabu, Kamis, dan Jumat juga tiga studio," kata dia.

Lebih lanjut, Yuliani mengatakan, untuk pembelajaran metode daring sekolah mengunakan aplikasi CloudX dan aplikasi Zoom. Sementara untuk pembelajaran luring sekolah mengunakan aplikasi penunjang seperti WhatsApp, Google dan aplikasi lain sesuai arahan guru mata pelajaran masing-masing.

"Hanya untuk daringnya kita fasilitasi dengan mengunakan CloudX dan Zoom," katanya.

Berjalannya PJJ ini bukan tanpa hambatan. Kondisi geografis wilayah yang berbukit pun menyebabkan jaringan sinyal terhambat. Maka, kata Yuliani, untuk menunjang pembelajaan tetap berjalan, siswa juga diibekali kartu provider. Sekolah hanya perlu mengeluarkan biaya Rp2.500 persiswa untuk pembelajaran satu pekan.

Tidak hanya kendala jaringan sinyal, pihak sekolah melakukan survei kepada seluruh siswa dalam pembelajaran kelas studio ini. Termasuk siswa yang tidak memiliki ponsel, sekolah akan memberikan untuk bergabung dengan rekan kelasnya pada saat kelas berlangsung.

"Kalau kendala selama ini masih ada, dan wali kelas dituntut untuk fokus melakukan home visit kepada siswa yang tidak hadir PJJ. Kendalanya apa, selama bisa diselesaikan akan diselesaikan difasilitasi. Tetapi sejauh ini tidak ada kendala. Hanya masalah kuota dan sinyal," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Caringin Amat Aswandi menjelaskan, kelas studio yang sudah berjalan selama dua bulan ini bertujuan agar interaksi guru dan siswa terjalin. Sehingga nilai yang ditaman kepads siswa dapat tercapai.

"Guru seperti ngajar alami seperti biasa. Ada interaksi dengan siswa. Siswa diwajibkan kelihatan wajahnya. Supaya terpantau keaktifan dan menilai sikap keaktifan belajar terpantau di situ. Jadi anjuran pemerintah kita betul-betul daring. Jadi kalau tidak pakai studio kami betul-betul kesulitan gitu. Kebanyakan sekolah melakukan luring saja, hanya rekaman," kata dia.

Selama PJJ, lanjut Amat, siswa digalangkan agar mematuhi protokol kesehatan menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak alias 3M. Kemudian tidak berkerumun di lingkungan rumahnya. Sehingga siswa dapat belajar dan mampu mengantisipasi tertularnya COVID-19. (ase)


#pakaimasker
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitanganpakaisabun
#ingatpesanibu
#satgascovid19