SMCB Bidik Pasar Ekspor ke Australia hingga China pada 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 membayangi kinerja PT Solusi Bangun Indonesia Tbk atau SBI (SMCB) sepanjang 2020.

Peningkatan jumlah kasus COVID-19 berimbas pada peningkatan mitigasi pemerintah melalui berbagai upaya pembatasan pada aktivitas masyarakat. Fokus pemerintah untuk mengalihkan pendanaan pada pencegahan COVID-19 turut mempengaruhi performa pasar semen domestik.

Penurunan konsumsi pasar semen domestik tercermin pada kinerja SBI. Hal ini seiring terjadi penurunan volume penjualan semen dan terak SBI dari 11,9 juta ton pada 2019, menjadi 10,5 juta ton pada 2020 atau sebesar 11,6 persen.

Kendati begitu, ada kenaikan dari penjualan ekspor yang melonjak dari 502 ribu ton pada 2019, menjadi 1,5 juta ton pada 2020. Penjualan itu naik sebesar 198,1 persen.

Presiden Direktur SBI, Aulia Mulki Oemar mengatakan, perseroan menargetkan pertumbuhan ekspor dapat melebihi angka pada 2020.

"Di tahun 2020 kami mengekspor sekitar 1,5 juta ton untuk pasar ekspor. Diharapkan di tahun 2021 ini angka itu akan lebih baik dari 1,5 juta ton,” kata dia dalam public expose, Selasa (30/3/2021).

Adapun perseroan membidik negara-negara di sekitar sebagai sasaran ekspor pada 2021. “Terutama pasar di Australia, Bangladesh, Filipina dan China,” ujar dia.

Belanja Modal 2021

Ilustrasi pabrik pembuatan semen. (dok. Byrev/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)
Ilustrasi pabrik pembuatan semen. (dok. Byrev/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk/SBI (SMCB) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 500 miliar pada 2021. Presiden Direktur, Aulia Mulki Oemar mengatakan, dana yang digunakan sebagai modal belanja itu berasal dari kas perseroan.

"Pada tahun 2021 kami anggarkan capex sekitar Rp 500 miliar kurang sedikit. Asalnya dari internal kas perseroan,” kata dia dalam public expose, Selasa (30/3/2021).

Pada 2021, perseroan optimistis dapat mencatatkan laba yang lebih baik dari 2020. Namun, Aulia belum bisa memastikan berapa kisaran pastinya.

"Mengenai besarannya, kami belum bisa memberikan jawaban. Kami berharap pertumbuhan kami paling tidak sama dengan pertumbuhan ekonomi indonesia,” kata Aulia.

Adapun pada 2020, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 650,98 miliar. Dari jumlah ini, 30 persen atau sekitar Rp 195,2 miliar ditetapkan sebagai dividen. Sementara 70 persen sisanya, atau sekitar Rp 455,6 miliar akan digunakan untuk mendanai kegiatan operasional perseroan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini