Smelter rampung 2024, Adaro Energy serius masuk ke industri aluminium

·Bacaan 2 menit

PT Adaro Energy Indonesia Tbk menyatakan keseriusannya masuk ke industri aluminium sebagai bagian dari diversifikasi portofolio bisnis perusahaan ke depan.

“Secepat mungkin kita akan masuk ke industri aluminium. Diharapkan tahun ini dan tahun 2023 pembangunan smelter sudah bisa dimulai, sehingga pada 2024 pembangunannya sudah selesai,” kata Presiden Direktur Adaro Energy Indonesia Garibaldi Thohir dalam Silahturahmi virtual Ramadhan Adaro, di Jakarta, Senin.

Menurut Garibaldi yang akrab disapa Boy Tohir ini, melalui industri aluminium Adaro diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan kendaraan listrik dan baterai listrik di Tanah Air.

Sebelumnya, anak usaha Adaro Energy yaitu PT Adaro Aluminium Indonesia telah menandatangani Surat Pernyataan Maksud Investasi (Letter of Intention to Invest) sebesar Rp10,4 triliun untuk membangun smelter aluminium di Kawasan Industri Hijau Indonesia, Kalimantan Utara.

Pengembangan smelter tersebut diharapkan dapat mendukung program hilirisasi di sektor pertambangan agar menambah nilai jual dari produk yang dihasilkan.

Boy Tohir menjelaskan, keputusan perusahaan masuk pada industri aluminium juga sejalan dengan transformasi Adaro menuju empat pilar bisnis yaitu Coal, Mineral, Clean Energy dan Adaro Green Industry.
​​​​​​
Keinginan tersebut juga diperkuat ketika Boy Thohir berkunjung ke Amerika Serikat pada beberapa waktu lalu dan melihat langsung pabrik pembuatan kendaraan listrik yang sebagian besar komponennya dari aluminium.

“Saat ini sudah ada teknologi mobil listrik berbahan aluminium. Seperti yang digunakan oleh mobil listrik Lucid, semuanya serba aluminium mulai dari rangka mesin hingga body mobil. Jadi berbobot sangat ringan,” katanya.

Namun ia menjelaskan, saat ini yang menjadi fokus perusahaan adalah membangun smelter karena investasi untuk pembangunan smelter aluminium bagian dari mendukung program hilirisasi industri yang telah dicanangkan pemerintah.

Dampak perang Rusia-Ukraina

Pada kesempatan itu, Boy Thohir juga bercerita soal dampak perang antara Rusia dan Ukraina terhadap kinerja perusahaan.

Ia mengungkapkan, akibat perang Rusia-Ukraina pesanan batu bara berdatangan dari sejumlah negara Uni Eropa, seiring dengan larangan pembelian batu bara dari Rusia.

Terbatasnya pasokan batu bara asal Rusia dan Eropa menurutnya, membuat harga batu bara bergerak pada level yang tinggi.

“Sudah mulai ada permintaan dari negara Uni Eropa ke Indonesia. Menurut hemat saya, so far kita thanks God lah ya," ujarnya.

Mengalirnya pesanan dari Eropa tersebut diakui Chief Financial Officer (CFO) Adaro Lie Luckman yang mengatakan bahwa telah melakukan pengiriman sebanyak 2-3 kapal atau sekitar 300.000 ton ke negara Belanda dan Spanyol.

Meski begitu, Lie Luckman menjelaskan pihaknya tetap masih fokus untuk memenuhi pasar Asia yang merupakan pembeli eksisting batu bara dari Adaro

“Ada permintaan dari Eropa, tapi memang pasar kita kan Asia. Jadi, kita fokus untuk memenuhi customer kita yang sudah ambil batu bara kita," katanya.

Baca juga: Adaro raih dua penghargaan pada TOP CSR Award 2022
Baca juga: Kembangkan ekonomi hijau, bos Adaro raih "Bussinessperson of The Year"
Baca juga: Inalum dan PLN perlu sinergi tingkatkan produksi aluminium domestik

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel