Soal Calon Bintara Fahri Diganti dengan Orang Lain, Polda Metro: Bukan Ada Titipan

Merdeka.com - Merdeka.com - Fahri Fadilah Nur Rizki (21), seseorang yang tak lolos sebagai siswa Bintara 2021 kini tengah menjadi sorotan. Karena, ia sempat masuk peringkat 35 dari 1.200 orang namun gagal menjadi bagian dari Korps Bhayangkara.

Terkait dengan gagalnya Fahri dan digantikan oleh orang lain, Kepala Biro SDM Polda Metro Jaya Kombes Langgeng Purnomo memastikan, pergantian Fahri dengan orang lain bukan karena adanya atensi atau titipan.

"Ini bukan atensi, ini adalah langkah untuk memenuhi kuota didik, prosesnya pun dilakukan secara prosedur dan melibatkan pengawas juga," kata Langgeng kepada wartawan, Selasa (31/5).

Langgeng menegaskan, tak lolosnya Fahri untuk masuk menjadi anggota Polri dikarenakan pria itu tidak memenuhi persyaratan. Sehingga, nama yang ada dibawahnya pun menjadi naik dan lolos.

"Tentang mekanisme pengganti itu berdasarkan petunjuk dari Polri, terkait dengan kuota didik mengikuti pendidikan. Pembentukan Bintara Polri di Polda Metro, apabila satu tidak memenuhi syarat, kemudian ranking dibawahnya naik," tegasnya.

Pergantian terhadap Fahri dengan orang lain atau yang berada dibawahnya itu pun dilakukan berdasarkan sidang terbuka. Sehingga, semuanya itu dilakukan sudah melalui proses.

"Dan itu pun dilakukan mekanisme sidang terbuka juga, melalui wanjak. Ini adalah langkah untuk memenuhi kuota didik, prosesnya pun dilakukan secara prosedur dan melibatkan pengawas juga," tutupnya.

Buta Warna Parsial

Kabar tidak lolos seorang anak bernama Fahri Fadilah Nur Rizki (21) sebagai siswa Bintara 2021 tengah menjadi sorotan. Lantaran, dia yang sudah masuk peringkat 35 dari 1.200 orang namun tetap gagal masuk jadi siswa Korps Bhayangkara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan membenarkan jika Fahri telah mendaftar Polda Metro Jaya dengan nomor pendaftaran 031125-P0431 asal pengiriman Polres Jakarta Timur (Jaktim).

"Yang bersangkutan sudah mendaftar sebagai calon siswa bintara di Polda Metro Jaya sebanyak tiga kali sejak tahun 2019," kata Zulpan kepada wartawan, Senin (30/5).

Namun, Zulpan menjelaskan jika pada 2019 hingga 2020 alasan Fahri tidak lolos seleksi karena dalam syarat pada tahap pemeriksaan kesehatan dengan diagnosa buta warna parsial. Namun, pada 2021 dia sempat dinyatakan lulus tahap 1 tahun anggaran 2022.

Namun, kata Zulpan, setelah itu berdasarkan surat dari Mabes Polri sebelum para peserta mengikuti pendidikan, ada kegiatan supervisi yang dilakukan terhadap pada peserta yang sudah lulus.

"Kemudian supervisi yang dipimpin ketua tim menyebutkan yang bersangkutan tidak memenuhi syarat dengan temuan buta warna parsial," katanya.

Atas temuan itu, pihak Polda Metro Jaya melakukan tindak lanjut atas supervisi dengan pemeriksaan yang disaksikan Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kabid Propam Polda Metro Jaya, Sekretariat SDM Polda Metro Jaya dan orang tua wali Fahri di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 25 Januari 2022.

"Hasilnya yang dipimpin dokter Susan selaku spesialis mata hasilnya buta warna parsial ini yang membuat yang bersangkutan tidak bisa mengikuti pendidikan," tuturnya.

"Karena ini syarat mutlak untuk anggota Polri adalah harus tidak buta warna ini syarat utama dari sisi kesehatan yang harus dipahamkan," tambahnya.

Di samping itu, Zulpan juga menjelaskan jika dampak dari Fahri yang mengalami buta warna juga akan berimbas kepada masyarakat apabila dirinya tetap menjadi anggota Polri kedepannya.

"Jika ada anggota Polri yang memiliki kelainan kesehatan buta warna parsial dalam tugasnya di lapangan contoh jika dia bertugas mengatur arus lalu lintas maka tidak bisa membedakan atau melihat perbedaan lampu, merah, kuning, hijau dan berdampak pada keselamatan masyarakat dan banyak hal lain yg bisa ditimbulkan," bebernya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel