Soal Instruksi Mendagri, Ridwan Kamil: Adakah Perilaku Tercela?

Syahrul Ansyari, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 3 menit

VIVA - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, angkat bicara terkait Instruksi Mendagri Nomor 6/2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan (Prokes) untuk Pengendalian Penyebaran COVID-19 yang memuat kebijakan mampu memberhentikan kepala daerah yang tidak menjalankan tugas dalam penegakan protokol.

Ridwan Kamil menilai pasca kejadian Megamendung, Bogor, yaitu pelanggaran protokol COVID-19 pada acara ceramah Habib Rizieq Shihab, belum bisa dipastikan menjadi syarat mutlak pemberhentian kepala daerah.

"Saya akan bahas, itu kait-mengait dengan narasi kegiatan karena harus dilihat secara komprehensif," kata Ridwan Kamil di Bandung, Kamis, 19 November 2020.

Baca juga: Ridwan Kamil Pastikan Penuhi Panggilan Bareskrim Polri

Ridwan Kamil menjelaskan layak dipertimbangkan dalam keputusan pemberhentian kepala daerah apakah terjadi perbuatan mencoreng yang tidak bisa ditoleransi.

"Adakah perilaku tercela dari kepala daerah yang melanggar hukum?" katanya.

"Tapi kalau ada dinamika seperti ini, contoh demo, demo kan kerumunan, masa kalau ada demo terus dikaitkan kepala daerahnya yang harus bertanggung jawab," lanjutnya.

Mendagri, Tito Karnavian, menegaskan bahwa pemerintah bisa memberhentikan kepala daerah jika terbukti melanggar protokol kesehatan.

Ketentuan itu dituangkan Mendagri dalam Instruksi Mendagri Nomor 6/2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan (Prokes) untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19. Instruksi ini diterbitkan untuk menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas Senin lalu agar kepala daerah konsisten menegakan protokol kesehatan.

Terdapat enam instruksi yang harus dilakukan kepala daerah. Di antaranya:

1. Menegakan secara konsisten protokol kesehatan COVID-19 guna mencegah penyebaran COVID di daerah masing-masing. Berupa memakai masker, mencuci tangan dengan benar, menjaga jarak, dan mencegah terjadinya kerumunan yang berpotensi melanggar protokol tersebut.

2. Melakukan langkah-langkah proaktif untuk mencegah penularan COVID-19. Dan tidak hanya bertindak responsif/reaktif. Mencegah lebih baik daripada menindak. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara humanis. Dan penindakan termasuk pembubaran kerumunan dilakukan secara tegas dan terukur sebagai upaya terakhir.

3. Kepala daerah sebagai pemimpin tertinggi di daerah masing-masing harus menjadi teladan bagi masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan COVID-19, termasuk tidak ikut dalam kerumunan yang berpotensi melanggar protokol kesehatan.

4. Bahwa sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, diingatkan kepada kepala daerah tentang kewajiban dan sanksi bagi kepala daerah sebagai berikut:

a. Pasal 67 huruf b yang berbunyi: "Menaati seluruh ketentuan perundang-undangan

b. Pasal 78:

(1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah berhenti karena:

a. meninggal dunia

b. permintaan sendiri; atau

c. diberhentikan.

(2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c karena:

a. Berakhir masa jabatannya

b. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 bulan

c. Dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b;

d. Tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b;

e. Melanggar larangan bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pasal 76 ayat (1) kecuali huruf c, huruf i dan huruf j

f. Melakukan perbuatan tercela;

g. Diberi tugas dalam jabatan tertentu oleh Presiden yang dilarang untuk dirangkap oleh ketentuan peraturan perundang-undangan;

h. Menggunakan dokumen dan/atau keterangan palsu sebagai persyaratan pada saat pencalonan kepala daerah/wakil kepala daerah berdasarkan pembuktian dari lembaga yang berwenang menerbitkan dokumen; dan/atau

i. Mendapatkan sanksi pemberhentian.