Soal Kudeta Demokrat, Moeldoko: Itu Urusan Saya, Pak Jokowi Tak Tahu Sama Sekali

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko angkat bicara soal dirinya terlibat isu kudeta Partai Demokrat. Moeldoko meminta isu tersebut tak dikaitkan dengan Istana dan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Jangan sedikit-dikit Istana. Dalam hal ini, saya ingatkan, jangan ganggu Pak Jokowi karena beliau tidak tau sama sekali dalam isu ini. Jadi itu urusan saya," kata Moeldoko dalam konferensi pers, Senin (1/2/2021).

Dia mengatakan, kerap menerima banyak tamu yang datang baik ke kantor maupun rumahnya. Kendati begitu, Moeldoko mengklaim pertemuan itu tak membahas pengambilalihan kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat.

"Saya orang yang terbuka, saya mantan Panglima TNI, tapi saya tak beri batas dengan siapapun apalagi di rumah ini mau datang terbuka 24 jam. Siapapun," ucap dia.

"Secara bergelombang mereka datang berbondong ya kita terima, konteksnya apa saya nggak mengerti," sambung Moeldoko.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY mengatakan, telah menaruh curiga terkait gerakan pendongkelan paksa atau kudeta kursi ketua umum partai yang tengah dijabatnya. Pada awalnya, hal tersebut dinilai sebagai problem internal yang dapat diselesaikan tanpa diumbar.

"Kami mencium gerakan ini dari sebulan lalu, kami menganggap persoalan ini hanyalah masalah kecil dan internal belaka, tetapi sejak adanya laporan keterlibatan pihak eksternal dari lingkar kekuasaan yang masuk secara beruntun pada minggu lalu, maka kami melakukan penyelidikan mendalam," kata AHY saat jumpa pers di Kantor DPP Partai Demokrat yang disiarkan secara daring, Senin (1/2/2021).

AHY pun membeberkan siapa saja para pelaku gerakan pendongkelan paksa atau pengkudeta kursi ketua umum Partai Demokrat. Menurutnya, dari kesaksian para kader diterimanya dalam berita acara pemeriksaan, ada dua golongan.

"Pertama, pelaku yang berasal dari kader partai dan kedua mereka yang berasal dari nonkader partai," ujarnya.

Terhadap pelaku internal, AHY menyebut lima latar belakang sosok. Pertama, seorang kader Demokrat aktif, kedua, seorang kader yang sudah enam tahun tidak aktif, ketiga, satu orang mantan kader yang sudah sembilan tahun diberhentikan dengan tidak hormat dari partai karena menjalani hukuman akibat korupsi, dan keempat adalah seorang mantan kader yang sudah keluar dari partai tiga tahun lalu.

"Sedangkan non kader, adalah seorang pejabat tinggi pemerintahan yang sekali lagi sedang kami mintakan konfirmasi dan klarifikasinya ke Presiden Joko Widodo," tegas AHY.

Ketua Umum Demokrat ini menegaskan akan menerapkan asas praduga tak bersalah dalam menelisik kebenaran dugaan terkait kasus ini. Salah satunya dengan mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi sebagai klarifikasi.

Demokrat Sebut Nama Moeldoko

AHY saat silaturahmi dengan Paslon Pilkada Medan, Akhyar-Salman (Istimewa)
AHY saat silaturahmi dengan Paslon Pilkada Medan, Akhyar-Salman (Istimewa)

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengungkap, sosok di balik lingkaran Presiden Joko Widodo yang diduga ingin mengkudeta Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY dari kursi ketua umum Partai Demokrat.

Menurut Herzaky, sosok tersebut adalah Moeldoko yang kini menjabat sebagai kepala staf kepresidenan (KSP).

"Berdasarkan pengakuan, kesaksian, dari BAP sejumlah pimpinan tingkat pusat maupun daerah Partai Demokrat yang kami dapatkan, mereka dipertemukan langsung dengan KSP Moeldoko yang ingin mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara inkonstitusional untuk kepentingan pencapresan 2024," tulis Herzaky dalam siaran pers resmi diterima, Senin (1/2/2021).

"Ini bukan soal Demokrat melawan Istana, atau Biru melawan Merah. Ini soal penyalahgunaan kekuasaan dengan mencatut nama Presiden." imbuh dia.

Saksikan video pilihan di bawah ini: