Soal Pemindahan Ibu Kota, LIPI: Jangan Curiga Terus dengan Jokowi

Bayu Nugraha, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 2 menit

VIVA – Peneliti Ahli Utama Kebijakan Publik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syafuan Rozi Soebhan mengatakan langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah bagus mengundang para ahli untuk membahas soal mega proyek pembangunan Ibu Kota baru. Menurut dia, Jokowi ingin menjalankan tugas sejarah cita-cita bangsa.

“Menurut saya, apa yang dilakukan Pak Jokowi ini panggilan sejarah bagian sejak lama diperjuangkan tapi berkali-kali gagal,” kata Syafuan kepada VIVA pada Senin, 19 April 2021.

Ia menjelaskan rencana pemindahan ibu kota bukan dilakukan secara mengada-ada atau mendadak oleh Presiden Jokowi, tapi jauh sebelum Jokowi memimpin republik ini memang sudah ada rencana pemindahan ibu kota itu. Namun, berkali-kali rencana tersebut gagal.

“Waktu era Bung Karno (Presiden Soekarno) mau memindahkan tapi pergantian kekuasaan. Pak Harto (Presiden Soeharto) juga tidak jadi. Pak Jokowi mau memindahkan ada pandemi. Jadi itu proyek sejak lama disiapkan era Bung Karno dan Soeharto. Itu bukan rencana mendadak, tapi kepentingan nasional kita,” jelas dia.

Karena, kata dia, para pemimpin negeri ini ingin memajukan Indonesia dengan melakukan pemerataan pembangunan sebagaimana konstitusi, bagaimana Indonesia walaupun masa krisis masih memikirkan cita-cita nasional.

Menurutnya, dengan pemindahan ibu kota itu diharap ada pemerataan pembangunan yang selama ini memang ada kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, atau antara pusat dengan daerah. Sehingga, tidak ada lagi Jawa sentris tapi Indonesia sentris.

”Memang tantangannya luar biasa. Kalau kita berpikir skeptis atau curiga terus, kapan lagi kita mau memajukan Indonesia melakukan pemerataan pembangunan,” ujarnya.

Di samping itu, ia menambahkan beberapa kajian dengan memindahkan ibu kota diharapkan luar Jawa bertumbuh berkembang, maka tidak hanya pemindahan ibu kota saja tapi ada pembentukan sepuluh metropolitan baru.

“Jadi tidak hanya kawasan Kalimantan Timur, tapi juga Indonesia bagian barat, tengah, timur juga dimajukan. Jadi yang dibangun bukan hanya Kaltim, tapi ada Sumatera, Sulawesi, Papua, Maluku dan lainnya, mungkin berikutnya akan dikembangkan. Menurut saya, itu bagian skema selain pemindahan ibu kota,” katanya.

Sementara, Syafuan menyarankan Presiden Jokowi untuk melibatkan atau mendengarkan pandangan para ahli bidang sosial dan politik. Sebab, selama ini mereka punya riset temuan terkait pemindahan ibu kota di berbagai negara. Tujuannya, supaya tidak mengalami kegagalan seperti negara lain yang pernah memindahkan ibu kota.

“Para ilmuan punya desain, pengalaman stok ilmu pengetahuan bagaimana pemindahan ibu kota di berbagai negara dengan kekurangan dan kelebihannya. Belajar dari pengalaman itu, kita punya sistem peringatan dini bagaimana kalau pemindahan ibu kota harus memperhatikan apa saja supaya tidak mengalami kegagalan,” tandasnya.

Baca juga: Jokowi Undang Para Ahli Bahas Ibu Kota Baru