Soal Rencana Pertemuan Jokowi dan Biden, Luhut Ungkap Banyak Hal yang Dibahas

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melangsungkan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada tanggal 15-16 November 2022.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, nanti pertemuan Jokowi dan Joe Biden akan membahas banyak hal.

"Bermacam-macam (yang dibahas), tapi paling tidak beliau (Jokowi) akan mengumumkan ada hasil pertemuan yang sudah kami rintis selama 1,5 tahun," kata Luhut usai meresmikan PLTS Terapung Waduk Muara Nusa Dua, di Tahura Ngurah Rai, Jumat (11/11).

Dia juga menyebutkan, bahwa nanti negara-negara seperti Saudi Arabia, Abu Dhabi dan mungkin China juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Jokowi.

"Iya paling tidak, saya lihat beberapa negara-negara hebat seperti Arab Saudi, Abu Dhabi dan itu juga akan bertemu dengan Presiden Jokowi dan mungkin juga China dan mungkin banyak negara lain lagi," imbuhnya.

Luhut menegaskan bahwa dalam KTT G20 banyak yang ingin bertemu bilateral dengan Jokowi. "Presiden Jokowi yang minta ketemu itu luar biasa banyaknya. Jadi, saya tidak tau berapa menteri kemarin. Kita juga bingung ngatur waktunya, karena tadinya tidak ada acara di G20 itu bilateral, sekarang bilateral terus," ujarnya.

Sementara itu terkait PLTS Terapung Waduk Muara Nusa Dua milik PLN Group, Luhut menuturkan pembangunan pembangkit listrik itu merupakan wujud nyata Indonesia dalam transisi energi dengan gencar membangun pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT). Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon menuju net zero emission pada tahun 2060.

"Kita akan membangun banyak sekali (PLTS). Ini hanya intermitten saja untuk baseload-nya, kita punya geothermal, hidro power, ada macam-macam. Indonesia punya 437 gigawatt (GW) potensi EBT, masih banyak ruang untuk terus bertambah," beber Luhut.

Sementara, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, PLTS Terapung Waduk Muara Nusa Dua ini bukan hanya sekadar showcase untuk KTT G20, melainkan juga sebagai simbol tidak ada lagi dilema energi di masa depan. Perubahan dari energi kotor menuju energi bersih perlu segera dilakukan untuk menciptakan bumi yang lebih baik di masa mendatang serta biaya yang lebih murah.

"Upaya kami dalam menurunkan gas rumah kaca ini adalah upaya yang bukan hanya karena perjanjian internasional, bukan hanya kebijakan, because we do really care," ujarnya.

Dia juga menyebutkan, PLTS yang terdiri dari 228 panel solarcell tersebut telah selesai dan berhasil diuji coba sejak awal Oktober 2022 melalui inovasi smart grid. Inovasi tersebut merupakan salah satu program dari transformasi PLN yang menggunakan teknologi sistem digital untuk memonitor dan mengelola pasokan energi listrik sesuai dengan kebutuhan beban.

"Di sini untuk apungnya dari buatan dalam negeri, framenya dari dalam negeri, semua peralatannya dalam negeri. Kedepan ini masih ada ruang kita membangun kapasitas nasional," jelasnya.

Darmawan juga menegaskan komitmen PLN dalam transisi energi menuju net zero emission pada 2060 dengan mengutamakan potensi alam yang berlimpah sekaligus menggerakkan perekonomian nasional. Karena menurutnya, dengan menggunakan produk lokal dalam pembangunan pembangkit, maka ekonomi Indonesia bisa ikut terangkat.

"Untuk transisi energi membutuhkan lebih dari USD700 miliar atau Rp10 ribu triliun. Kalau itu menjadi pangsa pasar produk luar negeri, ekonomi kita akan melambat, job creation-nya bukan di Indonesia, tetapi di negara-negara lain," katanya.

Namun, menurutnya melalui subholding PLN Indonesia Power, perseroan menyelesaikan proyek PLTS Terapung Waduk Muara Nusa Dua ini hanya dalam satu bulan dua minggu. PLTS terapung ini dibangun di atas area seluas 0,35 hektare atau satu persen dari luas Waduk Muara Nusa Dua.

Proyek ini merupakan penugasan pemerintah pada tanggal 19 Juli 2022 lalu. Pada September 2022 dilakukan sejumlah pekerjaan mulai dari proses perizinan, konstruksi hingga sinkronisasi tahap pertama. PLTS Terapung Muara Nusa Dua mendapatkan sertifikat laik operasi atau SLO pada tanggal 28 Oktober 2022. [cob]