Soal Terorisme, Stafsus Presiden: Tidak Ada Jihad dengan Kekerasan!

Axel Joshua Harianja

Jakarta, IDN Times - Pelaku terorisme sering dikaitkan dengan aksi jihad. Namun, aksi jihad itu identik dengan kekerasan atau pun bom bunuh diri. Namun, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Siti Ruhaini Dzuhayatin, tidak sepakat dengan jihad yang dilakukan para teroris.

"Di Indonesia, di dalam khazanah Islam pun, tidak ada justifikasi kita harus melakukan jihad dengan kekerasan," katanya di Gedung IDN Media HQ, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (14/11).

1. Masalah terorisme di Indonesia lebih kompleks

Soal Terorisme, Stafsus Presiden: Tidak Ada Jihad dengan Kekerasan!

Stasfus presiden bidang keagamaan itu menuturkan, mengatasi masyarakat Indonesia yang telah terpapar paham radikalisme tergolong sulit. Hal ini karena, mereka dijanjikan dapat naik ke surga jika mengikuti paham tersebut.

Ditambah lagi, unsur jihad menjadi kontribusi terbesar bagi para pengikutnya.

"Jadi ada in justice di situ di satu sisi. Kemudian ada iming iming di situ soal surga," tuturnya dalam acara Ngobrol Seru Bareng IDN Times yang bertajuk 'Membangun Harmoni di Tengah Ancaman Terorisme dan Radikalisme'.

2. Lantas, bagaimana cara menyelesaikan masalah itu?

Soal Terorisme, Stafsus Presiden: Tidak Ada Jihad dengan Kekerasan!

Siti melanjutkan, ada beberapa cara yang dapat diselesaikan terkait hal itu. Pertama, pemerintah sudah memperbaiki sistem pendidikan dengan memberikan hak pendidikan sampai sembilan tahun. Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan program-program yang berkaitan dengan jaminan kesehatan.

"Ini kan juga salah satu cara bagaimana mengurangi unsur-unsur yang berkaitan dengan in justice. Tapi di sisi lain, visi tentang modernisasi agama juga jadi sangat penting karena beragama itu bukan hanya sekadar benar, tetapi dia juga harus relevan," ujarnya.

3. Jihad tidak harus dilakukan dengan kekerasan

Soal Terorisme, Stafsus Presiden: Tidak Ada Jihad dengan Kekerasan!

Mantan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menilai, pandangan mengenai surga usai melakukan tindakan terorisme, harus diubah.

"Pandangan tentang bagaimana menciptakan khilafah itu bagian dari jihad, perlu kita imbangi untuk melihat sesungguhnya jihad tidak harus melakukan kekerasan, karena memang itu tidak diperlukan," jelasnya.

Siti kemudian mencontohkan, berdasarkan penelitian yang dia lakukan di Klaten, Solo, Jawa Tengah, persoalan mengajarkan agama sangatlah penting. Tak hanya itu, sedari kecil anak-anak juga diberikan daya kritis ketika diajarkan agama.

"Sehingga, anak itu bisa verifikasi apa yang dirasakan dan apa yg dialami. Ini perlu kita tumbuhkan agar bisa bertanya," katanya.

"Ini ada gap sebetulnya di antara anak-anak kita. Antara sesuatu yang hanya bisa dijawab di sekolah, tapi tidak bisa dijawab di rumah. Ada yang bisa dijawab di rumah, di sekolah tidak. Ada yang di rumah tidak bisa dijawab, di sekolah tidak dijawab, tapi di internet bisa dijawab," katanya lagi.