Soeharto sedih cuma bisa sekolah sampai SMP

MERDEKA.COM. Presiden Soeharto merasa sedih saat mengetahui dirinya tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Soeharto mengetahui hal tersebut setelah dirinya menamatkan sekolah Schakel Muhammadiyah.

Demikian disampaikan Soeharto dalam buku otobiografi 'Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya' karangan K.H. Ramadhan dan G. Dwipayana.

Saat itu, tidak ada satu pun keluarga yang bisa membantunya untuk melanjutkan sekolah. "Saya masih ingat saja akan apa yang dikatakan ayah saya waktu itu, 'Nak, katanya, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu," ujar Soeharto.

Soeharto yang saat itu masih hidup kekurangan disarankan sang ayah untuk mencari pekerjaan guna membiayai dirinya sendiri untuk melanjutkan sekolahnya. "Sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja, dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri," lanjutnya.

Namun, bagi Soeharto kecil saat itu sangatlah sulit mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan seseorang yang mempunyai kedudukan. Soeharto kecil pun berusaha ke sana kemari guna mendapatkan pekerjaan agar bisa melanjutkan pendidikannya tersebut.

Setelah sekian lama berusaha, jalan pun terbuka untuk Soeharto. "Akhirnya saya diterima sebagai pembantu klerek di sebuah Bank Desa. Walaupun saya tidak begitu senang dengan pekerjaan ini, saya anggap lebih baik menjalaninya daripada nganggur," ujar Soeharto.

Saat menjadi pembantu klerek, Soeharto kecil kerap mengenakan pakaian Jawa lengkap dengan kain blangkon dan baju beskap. Dengan menaiki sepeda, dirinya bersama sang klerek menyambangi sejumlah kantor lurah guna menampung permintaan warga yang menginginkan pinjaman.

Kendati menjalani profesinya dengan setengah hati, Soeharto kecil pun tetap ingin total dalam bekerja. Alhasil, dirinya pun kerap belajar pembukuan dengan mantri Bank Desa yang bernama Kamin. Soeharto yang cerdas pun sudah menguasai seluruh pembukuan dalam waktu kurang dari dua bulan.

Disamping itu, lantaran hanya mempunyai kain satu helai dan sudah terlihat usang, Soeharto kecil pun meminjam kain kepada bibinya.

"Tapi, pada suatu hari saya bernasib jelek. Waktu turun dari sepeda saya yang reot, kain yang saya pakai tersangkut pada per sadel yang menonjol ke luar dan sobek. Saya dicela oleh klerek yang saya dampingi," ujar Soeharto.

Tidak hanya klerek, Soeharto pun dimarahi bibi yang meminjaminya kain. "Saya dibentaknya, dengan mengatakan, kain itu adalah satu-satunya kain yang baik. Tak ada lagi yang lainnya yang bisa diberikan, sekalipun mungkin saja sebenarnya ia masih mau menolong," tutur Soeharto.

Peristiwa tersebut lantas membuat Soeharto berhenti dari pekerjaannya dan kembali menganggur. Soeharto pun mengisi hari-harinya dengan bergotong royong membangun sebuah langgar, menggali parit dan membereskan lumbung.

"Tetapi setelah itu, hari depan saya gelap lagi," ujarnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.