Solskjaer Ungkap Suasana Ruang Ganti MU Usai Gagal Juara Liga Europa

·Bacaan 2 menit

VIVA

Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, mengungkapkan suasana ruang ganti tim asuhannya usai gagal menjuarai Liga Europa 2020/2021. MU dipastikan gagal meraih trofi Liga Europa setelah dikalahkan Villarreal dalam drama adu penalti yang menegangkan.

Di laga tersebut, MU secara mengejutkan tertinggal lebih dulu lewat gol yang diciptkan Gerard Moreno pada menit ke-29. Namun, The Red Devils mampu menyamakan kedudukan di babak kedua atau tepatnya pada menit ke-55 melalui aksi Edinson Cavani.

Hasil 1-1 pun bertahan hingga waktu normal berakhir sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan 2x15 menit. Di babak tambahan, skor imbang tidak berubah sehingga pemenang harus ditentukan lewat drama adu penalti.

Babak adu penalti pun berlangsung sengit lantaran 10 penendang dari masing-masing tim berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna sehingga kedua kiper yang tampil harus mendapat giliran. Penjaga gawang Villarreal, Geronimo Rulli sukses melesakkan ke gawang MU, sedangkan sepakan David De Gea mampu digagalkan Rulli.

Hasil itu membuat Solskjaer harus menunggu trofi perdananya sebagai manajer MU. Dia pun mengaku, bahwa semua pemain sangat kecewa setelah hasil memilukan ini.

"Ruang ganti langsung sunyi dan para pemain sangat kecewa, tapi inilah sepakbola. Terkadang, hasil akhir harus ditentukan oleh satu penendang, dan itulah perbedaan antara menang atau kalah," kata Solskjaer, seperti dikutip Express, Kamis 27 Mei 2021.

"Kami harus belajar dari yang hal ini, bukan menikmati perasaan kecewa ini. Akan tetapi, kami merasakan perasaan ini dan memastikan untuk tidak mendapatkannya lagi," ujarnya.

Lebih lanjut, Solskjaer menjelaskan, bahwa skuad besutannya memang bermain tidak terlalu baik pada pertandingan melawan Villarreal. Meskipun, dikatakannya, pasukan Setan Merah telah tampil menekan sejak awal laga.

"Kami tidak bermain sebaik yang kami bisa. Meskipun, kami memulai pertandingan dengan baik, tapi mereka bisa mendapatkan gol dari satu-satunya tembakan tepat sasaran. Kami sangat kecewa karena kebobolan melalui bola mati," ucapnya.

"Setelah itu, kami selalu menekan dan berhasil mendapatkan gol. Namun, setelah mencetak gol, kami tidak mengontrol permainan atai mendominasi seperti yang kami inginkan," ungkapnya.

"Mereka menyulitkan kami, mereka selalu menutup ruang. Padahal, kami memiliki mayoritas penguasaan bola, tapi mereka bertahan dengan baik. Kami pun tidak menciptakan peluang yang cukup banyak," tutur manajer asal Norwegia tersebut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel