Solusi Tunas Pratama Bakal Terbitkan Obligasi Rp 13,64 Triliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), emiten penyedia layanan infrastruktur penunjang telekomunikasi independen akan menerbitkan obligasi atau surat utang dengan total Rp 13,64 triliun.

Penerbitan obligasi tersebut terdiri dari dua komposisi. Pertama, obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat senilai USD 400 juta atau setara Rp 5,64 triliun dengan memakai kurs tengah. Obligasi dolar AS yang diterbitkan ini 155 persen dari ekuitas perseroan per 31 Desember 2020.

Kedua, obligasi rupiah sebanyak-banyaknya Rp 8 triliun. Jumlah obligasi tersebut merupakan 219 persen dari ekuitas perseroan per 31 Desember 2020. Demikian mengutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (1/6/2021).

PT Solusi Tunas Pratama Tbk menerbitkan obligasi sebagai alternatif pendanaan. Perseroan akan memakai dana penerbitan obligasi untuk melunasi lebih awal sebagian atau seluruh dari pinjaman perseroan.

Selain itu, pendanaan untuk menambah modal kerja dan pengembangan usaha perseroan termasuk apabila diperlukan penambahan aset sehubungan dengan pengembangan usaha tersebut.

Pinjaman PT Solusi Tunas Pratama Tbk akan dilunasi lebih awal baik sebagian maupun dan keseluruhan antara lain perjanjian fasilitas senilai USD 297 juta pada 27 Februari 2018.

Pinjaman tersebut termasuk perjanjian sindikasi antara lain BNP Paribas, Citigroup Global Markets Singapore, ING Bank NV Singapore, CIMB Niaga, Standard Chartered Bank Singapore, Sumitomo Mitsui Banking, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd.

Selain itu, perjanjian fasilitas pinjaman sebesar Rp 3,85 triliun pada 27 Februari 2021 yang diteken BNP Paribas, Citigroup Global Markets Singapore, CIMB, Mandiri, Bank Permata, Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Sumitomo Mitsui Banking, Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd.

Berdasarkan laporan keuangan, saldo terhutang berdasarkan perjanjian sindikasi rupiah per 31 Desember 2020 sebesar Rp 2,76 triliun. Saldo terhutang terkini berdasarkan perjanjian sindikasi rupiah per 31 Maret 2021 adalah sebesar Rp 2,68 triliun.

Penerbitan Obligasi

Pekerja berbincang di dekat layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja berbincang di dekat layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Obligasi ini bertenor maksimal 10 tahun sejak diterbitkan. Tingkat suku bunga obligasi rupiah adalah sebesar maksimum 12 persen dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Demikian juga obligasi USD bertenor 10 tahun dan tingkat suku bunga maksimal 12 persen.

Pertimbangan penetapan suku bunga antara lain fluktuasi suku bunga yang tidak dapat diprediksi saat ini dan berdasarkan pernilaian perseroan, suku bunga di atas 8 persen untuk obligasi dalam USD tidak cukup memungkinkan bagi perseroan.

Obligasi dolar AS akan diprioritaskan untuk dicatatkan di BEI, tetapi apabila obligasi USD dicatatkan pada bursa efek luar negeri, kemungkinan besar perseroan akan memiliki Bursa Efek Singapura.

Penjaminan penerbitan obligasi tersebut antara lain jaminan perusahaan dari anak perusahaan penjamin dan seluruh menara telekomunikasi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini