Solusi Tunas Pratama targetkan kenaikan pendapatan 8-11 persen di 2021

·Bacaan 2 menit

Emiten menara telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama Tbk menargetkan kenaikan pendapatan perseroan di kisaran 8 persen hingga 11 persen pada 2021 seiring dengan industri telekomunikasi yang tetap tumbuh di masa pandemi.

Direktur Utama PT Solusi Tunas Pratama Tbk Nobel Tanihaha mengatakan, kinerja positif pada 2020 tentunya menjadi modal besar dari rencana korporasi ke depan untuk terus melakukan inovasi serta mengembangkan layanan kepada pemangku kepentingan.

"Tentunya kami berharap industri telekomunikasi Indonesia akan melanjutkan momentum pertumbuhannya seiring dengan fokus pemerintah yang memprioritaskan digitalisasi nasional dan pembangunan infrastruktur, perluasan jaringan yang berkelanjutan dan densifikasi oleh operator telekomunikasi, serta pertumbuhan konsumsi data yang sehat. Terkait rencana pengembangan di tahun 2021, kami proyeksikan kinerja perseroan akan tetap tumbuh positif dengan mentargetkan kenaikan pendapatan dan EBITDA sebesar 8-11 persen," ujar Nobel saat jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Emiten berkode saham SUPR itu berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,8 persen, dari Rp1,77 triliun pada 2019 menjadi Rp1,92 triliun pada 2020. Nobel menjelaskan, pertumbuhan pendapatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penyewaan menara sehingga rasio penyewaan menara meningkat dari sebelumnya 1,75x pada 2019 menjadi 1,89x pada 2020.

"Hal ini sejalan dengan kebijakan strategis perseroan untuk berfokus memaksimalkan aset perseroan," kata Nobel.

Pendapatan usaha SUPR terutama berasal dari penyewaan infrastruktur milik perseroan yang terdiri dari penyewaan menara telekomunikasi, penyewaan infrastruktur penguat sinyal di gedung-gedung, dan juga penyewaan dan pemakaian kapasitas infrastruktur jaringan kabel serat optik.

Sekitar 86,5 persen pendapatan perseroan pada 2020 tercatat berasal dari empat operator telekomunikasi terbesar di Indonesia yaitu PT XL Axiata Tbk, PT Hutchison 3 Indonesia, Telkom Group (termasuk PT Telkom Tbk, PT Telekomunikasi Selular, PT Dayamitra Telekomunikasi), dan PT Indosat Tbk.

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, SUPR juga mencatatkan penambahan signifikan laba tahun berjalan menjadi sebesar Rp708,8 miliar atau meningkat 210,3 persen jika dibandingkan dengan laba tahun berjalan pada tahun sebelumnya sebesar Rp228,4 miliar.

"Di tahun 2020, perkembangan industri yang terdampak pandemi COVID-19 justru semakin mendorong kebutuhan akan konektivitas yang dapat diandalkan yang pada akhirnya turut berdampak positif pada pencapaian pertumbuhan penyewaan bersih perseroan menjadi 12.145 atau tumbuh 8,9 persen dari tahun sebelumnya," ujar Nobel.

Dari sisi aset, jumlah aset SUPR pada 2020 tercatat sebesar Rp12,04 triliun atau meningkat sebesar 7,9 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp11,16 triliun. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh penambahan aset tetap dan kenaikan nilai revaluasi atas aset tetap.

Saat ini, korporasi yang melakukan penawaran umum saham perdana di tahun 2011 itu telah memiliki aset menara telekomunikasi di seluruh 34 provinsi di Indonesia di mana sebesar 87 persen aset menara telekomunikasi perseroan terletak di Pulau Jawa dan Sumatera, dua pulau dengan kepadatan penduduk paling tinggi di Indonesia.

Per 31 Desember 2020, perseroan tercatat memiliki 6.422 menara dengan 12.145 penyewaan dengan rasio penyewaan menara sebesar 1,89x. Selain itu, perseroan juga memiliki 38 jaringan Indoor DAS serta mengoperasikan 6,277 km panjang jaringan kabel serat optik di seluruh Indonesia, termasuk yang melalui kerja sama dengan PT Indonesia Comnets Plus.