Sopir Truk yang Disuntik Vaksin Covid-19 Baru 10 Persen, Ini Kesulitannya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mendorong terus program vaksinasi covid-19. Namun ternyata program ini tak mudah dijalankan. Banyak tantangan yang dihadapi salah satunya vaksinasi covid-19 untuk pengemudi angkutan barang atau sopir truk.

Alasannya, tidak sedikit dari para sopir truk yang tidak percaya dengan keberhasilan vaksin mencegah terpapar Covid-19. Bahkan Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Truk, Kyatmaja Lookman menyebut baru sekitar 10 persen sopir truk yang telah divaksin.

Hal ini tidak terlepas dari edukasi soal vaksin dan sulitnya memobilisasi para raja jalanan ini.

"Vaksinasi di kalangan sopir truk paling baru 10 persen sebab memobilisasi mereka ini sulit," kata Kyatmaja saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (7/7/2021).

Kyatmaja menilai informasi manfaat vaksin Covid-19 yang tidak menyeluruh membuat para supir truk ini enggan divaksin. Informasi hoaks yang berseliweran membuat mereka ogah divaksin.

Apalagi ada berita orang meninggal setelah vaksinasi kian menjadi preseden buruk. Sehingga perlu upaya lebih keras untuk membujuk para supir truk agar mau divaksin.

"Terus beberapa waktu lalu juga ada kejadian banyak meninggal karena vaksin, banyak dari mereka bilang yang divaksin aja masih bisa meninggal," kata dia.

Selain itu, masalah waktu dan tempat pelaksanaan juga menjadi tantangan lainnya. Para sopir truk ini kata Kyatmaja umumnya hidup secara nomaden alias berpindah-pindah. Sebab perjalanan sopir truk jarak jauh membutuhkan waktu berhari-hari. Sehingga membuat para supir beristirahat di tempat berbeda-beda.

"Masalah kendala tempat, ruang dan waktu ini juga jadi kendala sekaligus menurunkan minat mereka untuk vaksin," katanya.

Para sopir truk jarak jauh ini berbeda dengan pekerja kantoran biasanya. Sehingga proses vaksinasi Covid-19 untuk sopir truk membutuhkan upaya lebih serius dan lebih fokus lagi.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Erick Thohir di Sentra Vaksinasi: Mari Kita Buktikan Indonesia Bisa Menekan Kasus Covid-19 Bersama

Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi Sentra Vaksinasi Enesis di Jakarta International Equestrian Park, Jakarta Timur, Rabu (7/7/2021). Dok BUMN
Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi Sentra Vaksinasi Enesis di Jakarta International Equestrian Park, Jakarta Timur, Rabu (7/7/2021). Dok BUMN

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menghargai usaha kolaborasi yang dilakukan swasta, masyarakat, organisasi nirlaba, dan komunitas dengan pemerintah untuk bersama mengencangkan program vaksinasi sebagai ikhtiar memerangi pandemi Covid-19.

Menurutnya, dengan bergotong royong, maka negara ini bisa melalui segala masalah dan menampakkan jati diri sebagai bangsa yang kuat.

Hal itu dikatakan Menteri BUMN saat mengunjungi Sentra Vaksinasi Enesis di Jakarta International Equestrian Park, Jakarta Timur, Rabu (7/7/2021).

Sentra vaksinasi yang digelar oleh produsen Antis Hand Sanitiser, Enesis Group, lalu Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta, Indonesia Respon, dan GEMAWIRA ini ditujukan untuk rekan rekan pekerja dan stakeholders transportasi publik serta masyarakat umum.

"Di tempat yang bersejarah saat Asian Games 2018 lalu, saya melihat sebuah sinergi dan sikap gotong royong berbagai pihak untuk memerangi pandemi. Serupa saat kita diragukan saat jadi tuan rumah Asian Games, namun akhirnya berhasil membuktikan kepada dunia bahwa kita bisa, maka melalui sentra vaksinasi ini, mari sekali lagi kita membuktikan bahwa kita bisa menekan kasus positif Covid-19 secara bersama pula," ujar Erick Thohir.

Dalam kesempatan tersebut, juga diserahkan bantuan dari Enesis Group, berupa 1 Juta Antis Hand Sanitiser kepada Menteri BUMN yang juga merupakan Ketua Pusat MES untuk diberikan kepada seluruh masyarakat luas melalui Indonesia Respon.

Dia berharap, sentra vaksinasi ini mampu berkontribusi atas target 8,8 juta warga DKI Jakarta yang divaksin. Dikatakan saat ini, warga ibukota yang sudah divaksin mencapai 65 persen.

"Jadi demi mewujudkan herd immunity 72 persen, keberadaan Sentra vaksinasi ini sangat dibutuhkan. Apalagi berdasarkan data dari Kemenkes, sebanyak 90 persen pasien COVID-19 yang meninggal karena tidak mau atau belum divaksin," jelasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel