Sosiologi adalah Ilmu Sosial, Ketahui Pengertian dan Ruang Lingkupnya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Sosiologi adalah salah satu cabang ilmu sosial. Secara luas, sosiologi adalah ilmu sosial yang mempelajari setiap kehidupan masyarakat. Objek kajian dari sosiologi tidak lain adalah kehidupan manusia.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, sosiologi adalah ilmu pengetahun atau ilmu tentang sifat dan perkembangan masyarakat, ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya. Kata sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata 'socius' yang artinya masyarakat, dan 'logos' yang artinya ilmu.

Cara bekerjanya ilmu sosiologi adalah dengan memeriksa dinamika bagian-bagian masyarakat penyusun seperti institusi, komunitas, populasi, gender, ras atau kelompok umur. Sosiologi juga mempelajari status sosial atau stratifikasi, gerakan sosial, dan perubahan sosial serta gangguan sosial dalam bentuk kejahatan, penyimpangan, dan revolusi.

Berikut ini ulasan mengenai pengertian sosiologi menurut para ahli beserta ruang lingkup, ciri-ciri, dan teori-teori dasarnya yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (8/11/2021).

Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli

Berdasarkan hasil penelitian dalam bentuk obrolan di Twitter yang dilakukan Provetic, kalangan milenial memiliki perilaku konsumtif.
Berdasarkan hasil penelitian dalam bentuk obrolan di Twitter yang dilakukan Provetic, kalangan milenial memiliki perilaku konsumtif.

Secara harafiah sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pola perilaku manusia dalam bermasyarakat. Namun, ada pendapat yang berbeda dari para ahli mengenai pengertian sosiologi, yaitu:

Auguste Comte

Sosiologi adalah sebagai ilmu positif. Artinya sosiologi bekerja mempelajari gejala-gejala sosial dalam masyarakat berlandaskan pada logika rasional dan ilmiah.

Émile Durkheim

Sosiologi adalah sebagai ilmu yang mengkaji fakta dan institusi sosial dalam berbagai tatanan masyarakat. Dari kumpulan fakta terkait cara berpikir dan bertindak tersebut, Durkheim meyakini adanya kekuatan untuk mengendalikan individu.

Max Weber

Sosiologi adalah sebagai studi yang meninjau tindakan sosial guna menjelaskan hubungan sebab-akibat dari fenomena sosial tertentu.

Herbert Spencer

Sosiologi adalah ilmu yang mengamati susunan dan proses sosial sebagai sebuah sistem.

Ciri-Ciri Sosiologi

Ilustrasi Parenting Credit: pexels.com/Elly
Ilustrasi Parenting Credit: pexels.com/Elly

Sebagai ilmu pengetahuan murni sosiologi memiliki ciri utama, berikut keempatnya:

1. Empiris

Sebagai ilmu pengetahuan sosiologi didasarkan pada realitas sosial yang terjadi di lapangan dan tidak bersifat spekulatif.

2. Teoritis

Selalu berusaha menyusun abstraksi berupa kesimpulan mengenai hubungan sebab-akibat dari gejala sosial yang diteliti berdasarkan dari hasil pengamatan empiris.

3. Kumulatif

Kumulatif bersangkutan dengan kumulasi atau bersifat menambah. Sehingga sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang dinamis, berkembang dari teori yang sudah ada. Kemudian dikritisi, diperbaiki agar teori tersebut dapat lebih relevan dengan mengikuti perkembangan zaman.

4. Non-etis

Sosiologi ada tidak untuk menilai baik dan buruk suatu permasalahan, melainkan pada penjelasan logis terkait latar belakang terjadinya suatu fenomena tertentu.

Ruang Lingkup Sosiologi

Ilustrasi keluarga beraktivitas bersama. (Shutterstock)
Ilustrasi keluarga beraktivitas bersama. (Shutterstock)

Berikut ini ada beberapa runag lingkup dari sosiologi, yaitu:

  1. Peran dan kedudukan sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial, dan lingkungan masyarakat.

  2. Perilaku anggota masyarakat dalam melakukan interaksi sosial, yang didasari oleh nilai-nilai dan norma.

  3. Masyarakat dan kebudayaan daerahnya sebagai submasyarakat nasional Indonesia.

  4. Perubahan dan masalah-masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari berlangsung secara terus-menerus. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor faktor internal dan eksternal.

Teori-Teori Dasar Sosiologi Menurut Para Ahli

Ilustrasi Keluarga Bahagia Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Keluarga Bahagia Credit: pexels.com/pixabay

1. Teori Fungsionalisme

Struktural Muncul dari sosok Émile Durkheim yang mengimajinasikan masyarakat sebagai suatu organisme yang tersusun dari berbagai komponen dan saling mempengaruhi untuk dapat terus berfungsi. Teori fungsionalisme mengajarkan bahwa masyarakat terdiri dari sistem yang tersusun secara struktural dengan perannya masing-masing. Sehingga hasil dari berjalannya sistem secara keseluruhan dapat menciptakan tatanan dan stabilitas sosial.

Durkheim yang menaruh perhatian pada tatanan sosial membawa perspektif fungsionalisme ini pada struktur sosial level makro sebagai fokusnya dengan institusi sosial sebagai komponen dari sistem sosial tersebut. Dalam kacamata teori ini, lembaga sosial akan bertahan ketika fungsinya dijalankan dengan baik. Ketika terjadi malfungsi, maka perlahan lembaga sosial ini akan perlahan menghilang. Antar institusi sosial ini pun harus terjalin kerja sama yang baik, jika tidak sistem sosial akan kacau. Institusi sosial yang dimaksud di sini ialah keluarga, pendidikan, pemerintah, ekonomi, agama, media, dan lain-lain.

2. Teori Konflik

Teori yang digagas Marx ini berasumsi pada perbedaan kepentingan antarkelas dapat menghasilkan relasi sosial yang bersifat konfliktual. Pendistribusian kekayaan yang tidak merata menciptakan jurang kesenjangan sosial, di mana semakin parah kesenjangan yang ada membesar pula potensi timbulnya konflik sosial. Kelas sosial ini terbagi dalam dua kelompok, yakni borjuis dan proletar. Borjuis sebagai pemilik modal mayoritas sehingga memegang kontrol atas sumber daya yang ada. Sedangkan kelompok proletar adalah mereka kelas pekerja yang tidak memiliki kontrol.

Dari masing-masing kelas yang ada jelas tujuan dan kepentingan keduanya saling bertolak belakang, lantaran keinginan kaum borjuis untuk mempertahankan atau menambah kekuasaan sama besarnya dengan keinginan proletar dalam mendistribusikan kekayaan secara merata. Ketika kedua kelompok ini terus mengalami pergesekan lama-kelamaan akan pecah dan memicu revolusi. Terlebih dengan adanya kesadaran kelas ketika kaum proletar sadar bahwasanya mereka telah dieksploitasi.

3. Teori Interaksionisme Simbolik

Lahir dari perpaduan pemikiran antara Herbert Blumer, George Herbert Mead dan Max Weber, teori ini menganalisa masyarakat berdasar makna subjektif yang diciptakan oleh individu dalam proses interaksi sosial. Interaksionisme simbolik mengasumsikan landasan individu bertindak cenderung pada hal yang diyakini bukan yang secara objektif benar. Keyakinan terhadap suatu hal inilah yang dinamakan sebagai produk konstruksi sosial yang telah direpresentasikan. Hasil interpretasi tersebut merupakan definisi situasi. Dengan basis analisisnya adalah aspek individu maka teori ini tergolong dalam teori mikro sosiologi. Konsep dari teori interaksionisme simbolik ini juga memiliki tendensi dengan urusan identitas seseorang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel