Sosok 2 Jenderal Pasukan Siluman TNI Jaga Megawati dan SBY

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Detasemen Jalangkara (Denjaka) memang dikenal sebagai prajurit TNI berkemampuan tinggi, dan sangat misterius. Berbekal kemampuan para prajuritnya, Denjaka pernah dipercaya untuk menjadi penjaga sekaligus pelindung Presiden Republik Indonesia (RI).

Menurut data yang diperoleh VIVA Militer dari situs resmi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), hanya ada empat orang Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Laut yang pernah memimpin satuan ini. Kedua sosok tersbut adalah Letjen TNI (Mar) Nono Sampono dan Mayjen TNI Suhartono.

Megawati Soekarnoputri, Presiden RI ke-5, pernah mendapatkan pengawalan langsung dari Letjen TNI (Mar) Nono Sampono. Jebolan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1976 ini adalah salah satu prajurit satuan Marinir dan Denjaka.

Saat berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen) TNI, Nono didapuk menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Tepatnya pada tahun 2001, Nono datang menggantikan Komandan Paspampres sebelumnya, Mayjen TNI Amir Toha.

Sebelum menjabat Danpaspampres, pria kelahiran Bangkalan 1 Maret 1953 ini pernah Komandan Denjaka (Dandenjaka) ke-7. Tak cuma itu, setelah purna tugas sebagai Danpaspampres, Nono didapuk menjadi Komandan Marinir (Dankormar) pada 2006.

Setelah menjadi Dankormar, Nono sempat menduduki posisi Gubernur AAL, Komandan Jenderal (Danjen) Akademi TNI, dan Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas).

Sosok prajurit Denjaka selain Nono yang juga pernah menjabat Danpaspampres adalah Mayjen TNI Suhartono. Seperti halnya Nono, Suhartono juga pernah menjadi orang nomor satu di Denjaka. Suhartono adalah Dandenjaka ke-15, yang juga berasal dari Korps Baret Ungu.

Pada 2005 hingga 2008, Suhartono menduduki posisi Dandenjaka sebelum mendapatkan kenaikan pangkat menjadi bintang dua atau Letnan Jenderal (Letjen) TNI dan bertugas sebagai Danpaspampres.

Usai menjadi Danpaspampres, Suhartono mendapat kepercayaan menjad Dankormar. Ia menjadi orang nomor satu di Korps Marinir sejak 2018 hingga saat ini. Keberhasilan Suhartono menyamai pencapaian Nono yang notabene adalah seniornya.