Sosok Ayah Ternyata Kunci Pencegahan Serangan Pneumonia pada Anak

Lutfi Dwi Puji Astuti, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Upaya pencegahan pneumonia bagi anak di lingkungan keluarga ternyata tidak hanya dipegang sosok ibu. Figur ayah juga menjadi kunci. Dengan kata lain, butuh peran kedua orang tua untuk mengoptimalkan usaha itu. Itu penting karena angka kematian bayi dan balita karena pneumonia saat ini masih tinggi.

Kesimpulan itu tersaji dalam diskusi tentang Edukasi Media dan Penyebaran Komunikasi Publik Peran Ayah dan Pencegahan Pneumonia pada Anak dengan Imunisasi di Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 21 Desember 2020. Digelar secara hybrid virtual, sejumlah narasumber yang kompeten hadir dalam acara itu.

Sementara ini, upaya menekan angka kasus pneumonia pada anak yang efektif yaitu dengan imunisasi vaksin Pneumokokus Konyugasi (PCV). Di sisi ini figur ayah dibutuhkan. "Sebanyak 50 persen (kematian bayi dan balita) disebabkan oleh Streptococcus Pneumoniae dan 20 persen disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe b,” katanya.

Ia menjelaskan, imunisasi merupakan program yang sangat efektif untuk memenuhi target SDGs dengan penurunan angka kematian bayi 25 per 1.000. Vaksin PCV sudah diintroduksi di Indonesia. Semua diawali dengan demonstration program di Provinsi NTB dan Bangka Belitung serta selanjutnya diintroduksi secara nasional, yakni bertahap mulai 2020 sampai 2024.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin menuturkan, untuk menjaga kesehatan keluarga diperlukan support system yang ada di rumah, termasuk peran suami sebagai kepala rumah tangga. "Bagi para ayah, ayo kita harus support ibu-ibunya. Karena, vaksinasi yang dilakukan pada anak penting untuk kesehatan mereka,” kata Arumi melalui tayangan video.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, Dominicus Husada, menuturkan, seorang ayah di rumah memiliki peranan kunci dalam menentukan kesehatan keluarga, termasuk pencegahan pneumonia. "Sosok ayah juga memiliki komunitas seperti pertemuan khusus kaum mereka, ada pengajian, rapat RT-RW di berbagai komplek mereka,” ujarnya.

Ia melanjutkan, selama ini fokus kesehatan keluarga selalu saja fokus pada ibu si anak. Pasalnya, ibu yang merawat dan bersama si anak untuk jangka waktu yang lama sepanjang hari. “Kombinasi peran ayah yang maksimal akan melengkapi sebuah keluarga dalam membangun pertahanan kesehatan,” jelasnya.

Psikolog Universitas Airlangga Surabaya, Nur Ainy Fardana, menuturkan, peran penting ayah sebenarnya dimulai sejak bayi dalam kandungan. Dibutuhkan dukungan emosi dan perhatian ayah terhadap kondisi kehamilan ibu.

“Makanya ayah yang terlibat mengasuh anak sejak awal terbukti memberi kontribusi terhadap berkembangnya rasa aman dalam sisi emosi anak. Perhatian dan kasih sayang ayah kepada anak semasa bayi memberi sumbangan besar bagi terjalinnya kedekatan emosi ayah dengan buah hatinya,” jelasnya.

Medical Manager PT Pfizer Indonesia, Carolina Halim, mengatakan, keberadaan ayah menjadi dirigen bagi keluarganya untuk bisa menjaga kesehatan. Berbagai keputusannya menjadi penting sebagai bekal sebuah keluarga mampu untuk menjaga kesehatan dengan baik. Selama ini upaya atau tindakan terkait kesehatan anak kerap dilakukan oleh ibu atau orang tua perempuan.

“Ayah diharapkan mampu mengambil keputusan penting, termasuk manajemen finansial untuk kesehatan keluarganya. Sehingga bisa menentukan masa depan anaknya. Keputusan tepat untuk memastikan mereka sehat dan tetap hidup di masa mendatang,” kata Carolina.