Sosok Rani Khan, Pendiri Madrasah Transgender Pertama di Pakistan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Islamabad - Dengan syal putih panjang di kepalanya, Rani Khan (34) memberikan pelajaran Al-Qur'an setiap hari di madrasah transgender pertama di Pakistan, sebuah sekolah agama yang dia dirikan sendiri menggunakan tabungan hidupnya.

Sebagaimana dilansir Aljazeera, pada Selasa (23/3), sekolah ini menjadi tonggak penting bagi komunitas LGBTQ di negara mayoritas Muslim itu, di mana para transgender menghadapi pengucilan, meski tidak ada larangan resmi bagi mereka untuk bersekolah di sekolah agama atau beribadah di masjid.

"Kebanyakan keluarga tidak menerima transgender. Mereka mengusir anaknya dari rumah. Transgender dianggap melakukan kesalahan," Kahn menambahkan bahwa "Dulu, saya juga salah satu dari mereka."

Khan ingat bagaimana dia tidak diakui oleh keluarganya pada usia 13 tahun dan dipaksa mengemis.

Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan kelompok transgender, menari di pesta pernikahan dan acara lainnya, tetapi berhenti untuk terhubung dengan agamanya setelah mimpi di mana seorang teman transgender dan sesama penari memohon padanya untuk melakukan sesuatu untuk komunitas.

Khan belajar Al-Qur'an di rumah dan bersekolah di sekolah-sekolah agama, sebelum membuka madrasah dua kelas pada Oktober 2020.

"Saya mengajar Al-Qur'an untuk menyenangkan Tuhan, untuk membuat hidup saya di sini dan di akhirat," kata Khan, menjelaskan bagaimana sekolah menawarkan tempat bagi orang-orang transgender untuk beribadah, belajar tentang Islam dan bertobat atas tindakan masa lalu.

Ia mengatakan, sekolah tersebut belum menerima bantuan dari pemerintah, meski beberapa pejabat berjanji akan membantu para siswanya mendapatkan pekerjaan.

Rani Khan melihat salah satu siswanya saat pelajaran menjahit. Bersama dengan sejumlah sumbangan, Khan mengajari siswanya cara menjahit dan menyulam, dengan harapan dapat mengumpulkan dana untuk sekolah dengan menjual pakaian.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Diakuinya Gender Ketiga di Pakistan

Ilustrasi (iStock)
Ilustrasi (iStock)

Di sisi lain, pada tahun 2018, Parlemen Pakistan mengakui adanya jenis kelamin ketiga, memberikan individu hak-hak dasar seperti kemampuan untuk memilih dan memilih jenis kelamin mereka pada dokumen resmi.

Meskipun demikian, komunitas transgender tetap terpinggirkan di negara ini, dan seringkali terpaksa mengemis, menari, dan kerja di prostitusi untuk mencari nafkah.

Madrasah dapat membantu kaum trans berasimilasi dengan masyarakat arus utama, jelas Wakil Komisaris Islamabad Hamza Shafqaat.

"Saya berharap jika Anda meniru model ini di kota lain, semuanya akan membaik," katanya.

Sensus Pakistan 2017 mencatat sekitar 10.000 transgender, meskipun kelompok hak trans mengatakan jumlahnya sekarang bisa lebih dari 300.000 di negara berpenduduk 220 juta itu.

"Hati saya damai ketika saya membaca Alquran," kata siswa sekolah berusia 19 tahun, Simran Khan, yang juga ingin belajar keterampilan hidup.

"ni jauh lebih baik daripada hidup yang penuh hinaan," imbuhnya.

Reporter: Lianna Leticia

Saksikan Video Berikut Ini: