Sosok Xi Jinping di Mata Joe Biden dan Perang Dingin AS vs China

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengenang masa-masa ketika dia bersama Presiden China Xi Jinping masing-masing masih menjabat sebagai wakil presiden.

Menurut Biden, dia dan Xi sudah mengarungi perjalanan berkeliling dunia sejauh 27.000 kilometer dan mereka sudah menjalani 78 kali pertemuan di berbagai kesempatan.

Namun Biden kerap mengingat hubungan dirinya dengan Xi ketika keduanya berada di dataran tinggi Tibet. Biden selama ini menggambarkan dirinya sebagai sosok yang menjunjung tinggi demokrasi sementara Xi justru meragukannya.

"Saya dan Xi Jinping sedang di dataran tinggi Tibet waktu itu," kenang Biden suatu kali ketika berada di sebuah acara penggalangan dana Oktober lalu. "Dia menoleh pada saya dan berkata,'Bisakah Anda menjelaskan Amerika pada saya?' Saya bilang, 'Ya, satu kata: kemungkinan."

Kisah itu menurut para pengamat sudah diulang Biden sebanyak 13 kali selama tahun ini dalam berbagai kesempatan.

Pertemuan mereka di daerah sebelah barat daya China pada 2011 itu sebenarnya bukan di dataran tinggi Tibet dan angka perjalanan yang mereka tempuh yang disebut Biden memang dilebih-lebihkan, tapi itu adalah bentuk upaya Biden untuk mengenal sosok Xi Jinping. Pada pertemuan kala itu Biden menyampaikan terima kasih kepada Xi atas sikapnya yang "berterus terang" dan memprediksi AS dan China akan menjalani hubungan positif dalam hal kerja sama dan persaingan.

Dua hari lalu Joe Biden, 79 tahun, dan Xi Jinping, 69 tahun, kembali bertemu di KTT G20 Bali saat keduanya menjabat sebagai presiden.

Rabu lalu, sebelum pertemuan KTT G20, Biden mengatakan dia akan berdiskusi dengan Xi tentang apa yang menjadi "garis merah" bagi kedua pihak dan apakah kepentingan masing-masing negara bisa bertentangan satu sama lain.

"Dan jika bertentangan maka kami akan membahas bagaimana memecahkannya dan menyelesaikannya," kata Biden, seperti dilansir laman the New York Times, Kamis (11/11).

Ketika masih sebagai wakil presiden, Biden sudah mengakui hubungannya dengan Xi tidaklah sentimentil dan dibayangi kekuatan Amerika dan hubungan itu akan makin sulit diatasi.

"Kita jadi sangat kerepotan dengan orang ini," kata Biden kepada para penasihatnya di Gedung Putih setelah kembali ke Washington dari China pada 2011.

sosok xi jinping di mata joe biden dan perang dingin as vs china
sosok xi jinping di mata joe biden dan perang dingin as vs china

Waktu berlalu. Tahun berganti. Kini setelah menjabat sebagai presiden Amerika, Biden memperlakukan Xi seperti musuh di era Perang Dingin ketimbang sikapnya yang dikenal sebagai birokrat penuh perhitungan.

"Pemerintahan Biden sudah mengakhiri masa di mana AS mendukung kebangkitan China dan menjalin hubungan ekonomi di seluruh dunia,: kata Richard Haass, presiden Dewan Hubungan Luar negeri.

"Alasan di balik sikap itu adalah karena itu bisa mereformasi China. Pemerintahan Biden sudah mengumumkan tidak lagi percaya dengan hal itu."

Xi Jinping adalah putra dari seorang pemimpin revolusioner komunis yang menjadi teman seperjuangan Mao Zedong. Xi tumbuh sebagai anak yang berada di papan atas dari sistem partai, berdampingan dengan elit militer, dan dia memandang dirinya sebagai penjaga warisan partai dan kehebatannya. Nasionalisme yang dibangunnya di China kian tumbuh menjelma jadi sikap anti-Amerika.

Joe Biden adalah politisi kawakan yang punya kemampuan menjalin hubungan diplomatik jangka panjang dengan membenamkan sikap politik pada sikap pribadi. Tapi dengan Xi, dia memandang sosok pemimpin yang berubah dari sejawat yang tangguh menjadi penguasa otoriter yang sangat dominan berkuasa secara domestik dan tumbuh menjadi musuh di tingkat global.

"China adalah satu-satunya negara yang punya maksud untuk mengubah tatanan dunia sekaligus meningkatkan kekuatan ekonomi, diplomatik, militer dan teknologi untuk mencapai tujuannya," tulis Biden dalam dokumen strategi keamanan negara yang baru dirilis bulan lalu.

Para pejabat Amerika silang pendapat soal apakah Xi memandang dirnya sebagai juru selamat yang sejajar dengan Mao. Jika demikian, maka dia mungkin punya tujuan untuk menaklukkan Taiwan di bawah kekuasaan Partai Komunis.

Ilmuwan politik dari Universitas Michigan Yuen Yuen Ang punya pendapat mengejutkan:

"Sesungguhnya Xi merasa terancam. Dia tahu, di masa kepemimpinan Biden, Partai Komunis China punya lawan yang tangguh. Perang Dingin sudah berlangsung dan akan makin memanas."


[pan]