Spesies Monyet yang Belum Tercatat di Sains Ditemukan di Myanmar

Ezra Sihite, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Spesies monyet yang sebelumnya tidak ada dalam catatan sains telah ditemukan di hutan terpencil di Myanmar.

Lutung Popa, yang dinamai sesuai dengan tempat asalnya di Gunung Popa, tergolong sangat terancam punah karena jumlahnya hanya sekitar 200 ekor.

Lutung adalah sekelompok monyet pemakan daun yang ditemukan di Asia Tenggara.

Jenis lutung baru itu diidentifikasi dengan bentuk mata yang unik dan bulunya yang berwarna keabu-abuan.

Lutung Popa terancam kehilangan habitat dan juga perburuan.

Para ilmuwan telah lama menduga kemungkinan adanya spesies baru di Myanmar, berdasarkan DNA yang diekstrak dari kotoran monyet liar. Tetapi bukti terkait monyet itu selama ini sulit ditemukan.

Mount Popa
Sekitar 100 monyet hidup di hutan lindung dekat Gunung Popa, Myanmar.

Dengan informasi yang terbatas, para ilmuwan beralih ke sampel-sampel yang dikumpulkan sepanjang masa dan tersimpan di museum sejarah alam di London, Leiden, New York, dan Singapura.

Sampel-sampel itu dikumpulkan oleh sejumlah penjelajah di Myanmar, namun belum pernah diperiksa secara rinci.

Para peneliti mengekstraksi DNA lantas mengukur wujud fisik seperti ekor dan panjang telinga, untuk kemudian dibandingkan dengan populasi liar.

Proses ini akhirnya mengungkap keberadaan spesies baru, yakni lutung Popa yang hanya ditemukan di wilayah hutan di bagian tengah Myanmar.

Sebagian besar populasi monyet tersebut tinggal di taman suaka margasatwa di lereng Gunung Popa yang dianggap suci oleh masyarakat setempat.

Mendeskripsikan spesies ini secara ilmiah akan membantu pelestariannya, kata Frank Momberg dari kelompok konservasi Flora and Fauna International.

"Lutung Popa, yang baru saja dijelaskan, sudah sangat terancam punah dan menghadapi kepunahan sehingga sangat penting untuk melindungi populasi yang tersisa dan terlibat dengan komunitas lokal serta pemangku kepentingan sektor swasta demi menjaga masa depannya," katanya kepada BBC News:

Hanya ada 200 hingga 250 hewan dari spesies baru ini, yang hidup di empat kelompok populasi yang terisolasi.

Sepanjang 10 tahun terakhir ini, Myanmar telah membuka kolaborasi internasional dengan para ilmuwan.

Keterbukaan ini telah menghasilkan penemuan spesies baru dalam catatan ilmu pengetahuan, termasuk berbagai spesies reptil dan amfibi. Namun, penemuan primata baru jarang terjadi.

Christian Roos dari laboratorium genetika primata di Pusat Primata Jerman di Gottingen, mengatakan hewan tersebut menghadapi ancaman dari hilangnya habitat dan perburuan.

"Perburuan adalah masalah besar, tetapi ancaman terbesar adalah habitatnya yang hampir habis dan terus berkurang, mereka terpisah-pisah dan terisolasi akibat perambahan manusia," katanya.

Penemuan tersebut dijelaskan dalam jurnal Zoological Research.

Studi genetik mengungkapkan bahwa lutung Popa (Trachypithecus popa) terpisah dari spesies lain yang diketahui hidup sekitar satu juta tahun yang lalu.