Spirit Doll Sempat Jadi Tren di Thailand dan Menimbulkan Pro Kontra

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Spirit doll atau boneka arwah tengah menjadi perbincangan di Indonesia setelah artis dan pengguna beberapa pengguna Tiktok memamerkannya di sosial media.

Spirit doll yang umumnya berbentuk boneka anak kecil juga sempat viral di Thailand medio 2016. Boneka-boneka itu disebut luk thep atau secara harfiah diterjemahkan sebagai anak malaikat.

Dan, orang-orang percaya bahwa mereka membawa keberuntungan sehingga dimanjakan oleh pemiliknya seolah-olah Spirit dolls mereka adalah anak sungguhan.

Setelah membeli boneka, pemiliknya membawanya ke seorang biksu yang melakukan doa dan upacara yang dikenal sebagai plook sek seperti dilansir dari BBC.

Doa semacam itu biasanya digunakan untuk memberkati jimat keberuntungan, yang juga populer di Thailand, saat kepercayaan kuno tentang sihir masih lazim.

Dalam kasus luk thep, itu sering dianggap sebagai cara menghidupkan boneka, ketika roh pengembara diundang untuk menghuninya dan memberinya jiwa.

Perlakuan Istimewa

Saking istimewanya, maskapai penerbangan Thai Smile Airways sempat mengumumkan bahwa penumpang dapat membeli tiket untuk boneka yang akan mendapatkan kursi, makanan ringan, dan minuman mereka sendiri.

Perlakuan istimewa pada spirit doll sempat mendapat reaksi dan peringatan dari otoritas Thailand. Para pejabat sejak itu turun tangan.

"Berdasarkan aturan penerbangan internasional, penumpang adalah manusia. Jadi maskapai penerbangan tidak diperbolehkan menjual tiket boneka," kata juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Thailand seperti dilaporkan The Bangkok Post mengutip BBC.com, Rabu (5/1/2022).

Penumpang dapat membeli kursi kedua dengan nama mereka dan menempatkan luk theps mereka di sana, tambahnya.

Makan di Restoran Mewah

Tren spirit doll di Thailand membuat salah satu restoran di Bangkok mengambil kesempatan. Restoran Neta Grill sempat menawarkan menu untuk luk theps dengan harga anak-anak.

Beberapa pemilik mengatakan kepada BBC Thai bahwa boneka itu lebih dari sekadar jimat, mereka memperlakukan mereka seperti anak-anak mereka sendiri.

"Putri saya ingin adik dan teman. Di sekolahnya, teman-temannya juga memiliki luk, jadi putri saya ingin memiliki satu seperti orang lain," kata salah satu pembeli.

Pemilik yang menyayanginya juga suka memasangkan aksesori dan perhiasan mahal untuk boneka mereka.

Imbauan Pemerintah Thailand

Antropolog Asama Mungkornchai dari Universitas Pangeran Songkla di Pattani mengatakan boneka itu tampaknya sangat populer di kalangan wanita kelas menengah, dan dapat "memenuhi kebutuhan menjadi ibu" di antara pemilik tersebut.

Tetapi fakta bahwa banyak yang mengatakan mereka membutuhkannya untuk keberuntungan dan kekayaan juga menjadi sorotan. Mereka memiliki rasa tidak aman di antara kelas menengah Thailand, terutama dalam hal ekonomi, tambahnya.

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mendesak warga Thailand untuk tidak terbawa oleh tren dan tidak membeli boneka jika mereka tidak mampu membelinya.

Polisi juga menyatakan keprihatinan bahwa penjual boneka telah menghindari pajak impor, dan boneka itu dapat digunakan untuk menyelundupkan narkoba jika diizinkan di pesawat.

Bahkan, polisi di Chiang Mai mencegat sebuah boneka yang berisi 200 tablet obat rekreasional populer yang disebut yaba.

Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long COVID-19 Kembali ke Sekolah

Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long Covid-19 Kembali ke Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long Covid-19 Kembali ke Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel