Sri Mulyani Akui Banyak Target Pemerintah di 2021 Tak Tercapai, Apa Saja?

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui tidak semua asumsi dasar pertumbuhan ekonomi tahun 2021 dalam UU APBN 2021 tercapai. Sebagian besar meleset dari target pemerintah karena adanya penyebaran Covid-19 varian delta di pertengahan tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang semula ditargetkan tumbuh 5 persen. Kini pemerintah hanya optimis bisa tumbuh 3,7 persen atau dalam rentang 3,5 persen sampai 4 persen.

"Pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari asumsi APBN yang tadinya 5 persen," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (3/1).

Tingkat inflasi diperkirakan 1,87 persen dari asumsi 3 persen. Meski begitu, Sri Mulyani menyebutkan capaian inflasi tahun 2021 lebih baik dari tahun 2020 yang terjaga rendah di angka 1,68 persen.

Tingkat suku bunga yang diasumsikan akan berada di level 7,3 persen, realisasinya diperkirakan hanya 6,35 persen. Angka ini relatif lebih baik dari tahun 2020 di level 5,8 persen.

Begitu juga dengan nilai tukar rupiah yang juga masih dibawah asumsi APBN 2021 yakni Rp 14.312, padahal asumsinya Rp 14.600. Namun Sri Mulyani mengatakan nilai tukar rupiah masih lebih baik dari tahun 2020 yang rata-ratanya Rp 14.577.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harga Komoditas

Menkeu Sri Mulyani memberi sambutan saat seremonial pembangunan Kantor Pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Selasa (2/4). Gedung Indonesia Financial Center diperuntukkan bagi OJK dan Kementerian Keuangan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Menkeu Sri Mulyani memberi sambutan saat seremonial pembangunan Kantor Pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Selasa (2/4). Gedung Indonesia Financial Center diperuntukkan bagi OJK dan Kementerian Keuangan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara dari sisi harga komoditas rata-rata mengalami peningkatan harga. Realisasi harga batubara meningkat menjadi USD 68 per barel dari asumsi USD 45 per barel. Meskipun harga komoditas mengalami peningkatan, namun dari sisi realisasi produksi masih rendah.

Misalnya lifting minyak hanya 662 ribu barel per hari dari target 705 ribu barel per hari. Sedangkan gas produksinya hanya 982 ribu barel per hari dari target 1.007.000 barel per hari ekuivalen minyak bumi.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel