Sri Mulyani: APBN Kita Mulai Pulih Kesehatannya

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pendapatan negara per kuartal I-2022 mencapai Rp 501 triliun. Capaian ini naik 32 persen dari pendapatan negara di tahun 2021 lalu.

Dari sisi pajak, kas negara terisi Rp 3.222,5 triliun, lebih tinggi dari pencapaian bulan Februari sebesar Rp 199,4 triliun, meningkat 41,4 persen dari tahun lalu sebesar Rp 228 triliun. Pos pendapatan dari kepabean dan cukai terkumpul Rp 79,3 triliun. Naik signifikan, 27,3 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 62,3 triliun.

Realisasi penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 99,1 triliun. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu sebesar Rp 88,6 triliun, atau tumbuh 11,8 persen. Sedangkan sisi belanja akan terus dioptimalkan untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi, seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19.

"Belanja negara masih perlu dipacu lagi. Belanja negara total mengalami kontraksi 6,2 persen, bahkan untuk belanja pemerintah pusat kontraksinya 10,3 persen, belanja K/L bahkan kontraksinya lebih dalam lagi. Ini artinya para Kementerian dan Lembaga perlu untuk memacu dari sisi rencana belanja mereka," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Rabu (20/4).

Untuk realisasi Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD), hingga akhir Maret 2022 tercatat tumbuh positif sebesar 2 persen yaitu Rp 176,5 triliun. Penyaluran TKDD sampai dengan 31 Maret 2022 lebih tinggi dibandingkan tahun 2021, yaitu Rp 173 triliun.

"Jadi bagaimana kondisi APBN kita pada akhir Maret ini, karena banyak yang kemudian orang sering kemudian membuat statement mengenai kondisi APBN dan utang. Coba kita lihat, realisasi sampai dengan akhir Maret 2022 keseimbangan primer kita bahkan surplus Rp94,7 triliun. Ini suatu prestasi yang luar biasa karena tahun lalu defisit Rp65,3 triliun, artinya pembalikan 245 persen membalik secara cepat dan kuat," paparnya.

Demikian juga dari sisi total keseimbangan APBN. Sri Mulyani menyebut APBN sampai akhir Maret 2022 masih surplus sebesar Rp 10,3 triliun. Sementara dibandingkan tahun lalu pada bulan Maret 2021 APBN sudah mencatatkan defisitnya sebesar Rp 143,7 triliun.

Dengan kondisi posisi APBN yang surplus, maka pembiayaan utang tercatat mampu turun secara tajam. Hingga dengan akhir Maret 2022, APBN hanya mengeluarkan Rp 139,4 triliun untuk pembiayaan. Pembiayaan utang ini turun tajam sebesar 58,1 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu yakni pembiayaan utang tercatat sebesar Rp 332,8 triliun.

"Surplus dan pembiayaan utang yang merosot tajam menggambarkan bahwa APBN kita mulai pulih kesehatannya, dan ini bagus karena APBN pasti dibutuhkan untuk berbagai macam seperti shock absorber, melindungi masyarakat, membangun infrastruktur, mendukung pendidikan, memperbaiki kesehatan, memperbaiki alutsista. Semuanya itu pasti butuh APBN. Maka APBN harus terus menerus dijaga kesehatannya," imbuhnya.

Bahkan dengan surplus ini APBN masih punya sisa anggaran lebih Rp 149,7 triliun. APBN akan terus diseimbangkan dalam tiga tujuan yang semuanya sama penting, yaitu menjaga kesehatan dan keselamatan rakyat, menjaga kesehatan dan pemulihan ekonomi, dan mengembalikan kesehatan APBN.

"Itulah cerita dari APBN kita sampai bulan Maret ini yang tentu kita tidak terlena. Tetap kita jaga karena meskipun hasilnya sangat bagus namun keberadaan risiko masih sangat tinggi," kata dia. [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel