Sri Mulyani Bakal Bernasib Seperti Megawati?

INILAH.COM, Jakarta - Sri Mulyani berancang-ancang maju dalam Pemilu Presiden 2014 mendatang. Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) siap menjadi kendaraan politik Sri Mulyani. Namun, diprediksikan Sri Mulyani bakal bernasib sama seperti Megawati alias kandas. Mengapa?

Politik kerap dilekatkan dengan sebuah momentum. Kadang momentum kerap menjadi faktor penentu sebuah kesuksesan dalam politik. Contoh nyata, Megawati sukses dalam Pemilu 1999 dan SBY dalam Pemilu 2004 juga dikarenakan momentum politik yang berpihak kepada keduanya.

Bagaimana dengan Sri Mulyani? Kemunculan Sri Mulyani yang diajukan sebagai kandidat presiden oleh Partai SRI di tengah sebagian tokoh partai politik diterpa isu korupsi dan kejahatan ekonomi. Mulai kasus penggelapan pajak dan korupsi dana APBN oleh para politisi.

Kehadiran Sri Mulyani, sebagaimana diakui oleh anggota Dewan Pertimbangan Partai SRI Rocky Gerung sebagai sosok yang memiliki integritas, etika publik, serta reformasi birokrasi. "Sri Mulyani adalah ukuran terbaik saat ini. Sampai saat ini tidak ada tokoh yang memberi pelajaran dalam melakukan reformasi birokrasi dan etika publik," ujarnya.

Jualan sosok bersih oleh Partai SRI terhadap Sri Mulyani, yang saat ini miskin dihadirkan oleh tokoh partai politik menjadi deferensiasi dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Sri Mulyani dipersepsikan sosok yang berbeda dengan tokoh lainnya.

Namun, deferensiasi ini tampaknya tidak dengan sendirinya memudahkan langkah Sri Mulyani menuju RI-1.  Kekalahan Megawati Soekarnoputri dalam dua kali Pemilu Presiden langsung di Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 bisa menjadi sebuah pelajaran. Dalam Pemilu 2004, Megawati hanya memperoleh suara 39,38% kalah dengan SBY-JK. Begitu juga dalam Pemilu 2009 lalu.

Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukmah Hakim Saefuddin mengakui memang ada kalangan sebagian umat Islam yang memiliki pemahaman perempuan tidak layak menjadi presiden. "Memang ada sebagian umat Islam memiliki pandangan perempuan tidak boleh menjadi presiden," ujarnya di gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/8/2011).

Hanya saja, menurut Lukman, pandangan tersebut bukanlah pandangan yang mayoritas dimiliki oleh umat Islam. "Karena yang mainstream seperti NU dan Muhammadiyah tidak menyoal presiden perempuan," katanya.

Terkait kekalahan Megawati dalam dua Pilpres langsung, Lukman menegaskan hal tersebut bukan karena faktor gender. "Lebih karena persoalan substantif lainnya, bukan karena isu gender," katanya.

Hal senada disampaikan politikus PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari. Dia menegaskan kekalahan Megawati dalam dua pemilu bukan karena faktor gender. "Lebih faktor politis," tepisnya.

Dia membantah bila isu gender masih menjadi batu sandungan dalam demokrasi pemilihan langsung. Eva menuturkan, penerimaan publik terhadap perempuan terus mengalami peningkatan signifikan. "Seperti di parlemen, dalam Pemilu 2004 lalu sebanyak 8 persen anggota DPR berjenis kelamin perempuan, nah sekarang naik menjadi 18 persen," ujarnya.

Meski demikian, dia tidak menampik bila di daerah-daerah tertentu di Indonesia, kepemimpinan perempuan masih mengalami resistensi dari masyarakat. "Seperti di Madura, tidak ada anggota DPR dari perempuan. Jadi tergantung sub-kultur," tegasnya.

Terpisah, Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi Partai Demokrat Ruhut Poltak Sitompul mengingatkan agar Sri Mulyani mencermati keengganan Ani Yudhyono maju dalam Pilpres 2014 mendatang. "Nyaris tidak ada calon presiden berjenis kelamin perempuan yang bisa menyaingi Ibu Ani Yudhoyono. Beliau puteri Bapak Sarwo Edhie dan istri dari Presiden RI," paparnya.

Namun, kata Ruhut, kelebihan Ani Yudhoyono tidak serta merta menjadikannya maju dalam Pilpres 2014 mendatang. "Nyatanya Ibu Ani Yudhyono tidak mau maju dalam Pilpres 2014. Ini harus dicermati Bu Sri Mulyani. Apalagi Sri Mulyani hanya dikenal di kalangan terbatas seperti kampus dan masyarakat kota," ingatnya. [mdr]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.