Sri Mulyani: Banyak Ide Brilian di Indonesia Tapi Tak Bisa Dilaksanakan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, banyak masyarakat di Indonesia memiliki ide-ide yang brilian. Namun ketika mengeksekusi atau melaksanakan ide tesebut, justru tidak bisa karena terbentur oleh sistem.

"Masyakrat kita punya banyak ide brilian, namun dia tidak bisa dilaksanakan sebab dihadapkan pada begitu ruwet sistem dan halangan untuk bisa menerjemahkan dan melaksanakan ide," ujarnya dalam webinar Akselerasi Indonesia Maju melalui Penanaman Midal dan Insentif Fiskal, Kamis (1/4).

Menurutnya, persoalan ini menjadi tanggungjawab bersama termasuk perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Tidak hanya menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang hebat dan berkopeten, namun juga bisa memberikan kontribusi pemikiran untuk persoalan negeri.

"Ini tugas dari semua termasuk perguruan tinggi, akademisi tidak hanya menyiapkan tapi menyelesaikan masalah negara," katanya.

Sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pada 2045 mendatang Indonesia akan merayakan 100 tahun kemerdekan. Pada usia itu, demografi penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 319 juta orang.

Dia mengatakan, jika pemerintah bisa terus menjaga polusi dan implementasi kebijakan ekonomi yang baik, prudent namun juga inovatif, maka Indonesia akan bisa menjadi ekonomi dengan ukuran lima terbesar di dunia.

"Saat ini kita sudah masuk dalam kelompok G20 dengan ukuran dari perekonomian kita yang masuk di dalam 20 terbesar," katanya dalam webinar Akselerasi Indonesia Maju melalui Penanaman Midal dan Insentif Fiskal, Kamis (1/4).

Bendahara Negara itu menambahkan, usia produktif dari penduduk Indonesia pada 2045 sebesar 47 persen. Di mana 73 persen masyarakat akan tinggal di daerah perkotaan, sedangkan 70 persen adalah kelompok kelas menengah.

Pada usia 100 tahun, income pendapatan per kapita bisa mencapai USD 23.199. Itu artinya Indonesia sudah masuk di dalam middle upper classs. Dan tentu dirinya berharap struktur perekonomian Indonesia juga akan didukung oleh struktur perekonomian yang memiliki daya kompetisi dan memiliki nilai tambah yang tinggi.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Tinjau Vaksinasi Perbankan, Sri Mulyani: Anggaran Vaksin dari APBN, Supaya Ingat Saja

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). APBN 2019, penerimaan negara tumbuh 6,2 persen dan belanja negara tumbuh 10,3 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). APBN 2019, penerimaan negara tumbuh 6,2 persen dan belanja negara tumbuh 10,3 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menekankan bahwa program vaksinasi bagi seluruh masyarakat dibiayai dengan menggunakan uang negara.

Hal itu disampaikan saat mendampingi Presiden Joko Widodo melakukan peninjauan vaksinasi pelaku perbankan dan pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Saya diminta Bapak Presiden untuk menyapa Bapak Ibu sekalian. Mungkin karena anggaran vaksinnya dari APBN ya, supaya mengingatkan saja," kata dia di Jakarta, Rabu (31/3).

Tahun ini pemerintah menyediakan anggaran untuk program vaksinasi sebesar Rp58,18 triliun. Anggaran ini masuk dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yaitu klaster kesehatan dengan total alokasi mencapai Rp176,3 triliun.

Bendahara Negar itu menambwhkan, pelaksanaan vaksinasi bagi pelaku di sektor keuangan ini sebagai upaya pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Sebab, sektor keuangan dinilai memiliki peran penting untuk mendukung pemulihan ekonomi.

"Ini perhatian Bapak Presiden supaya kegiatan ekonomi segera pulih kembali. Jadi untuk sektor keuangan, apakah perbankan dan pasar modal menjadi prioritas kita semua," tukasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: