Sri Mulyani Bicara Kartu Prakerja: Kartini Dulu Berjuang untuk Ilmu, Ini Dikasih Kok Tidak Mau

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati cukup heran dengan adanya masyarakat tidak mau memanfaatkan pelatihan yang disediakan oleh Kartu Prakerja. Kebanyakan dari mereka justru mengharapkan mendapat uang saja.

"Kalau ada yang mengatakan mbok ya dijadikan bansos saja, ya bisa saja dijadikan bansos, tapi malah saya bingung, wong Kartini 100 tahun yang lalu berjuang untuk bisa mendapatkan ilmu, kok ini dikasih ilmu kok tidak mau gitu loh?," ujarnya mempertanyakan, dalam Talk Show: Kartini Pendobrak Perubahan yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan, Rabu (21/3/2021).

Bendahara Negara itu melanjutkan, jika kemudian kritikannya apakah pelatihannya itu betul-betul bermutu atau tidak, jelas bermutu. Bahkan pelatihan Kartu Prakerja ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar dan terus diperbarui setiap saatnya.

"Kalau hari ini, dari testimoninya, ada yang mengatakan saya belajar bahasa Inggris dan kemudian dia menjadi pede, oke, tapi kemudian sektor pariwisata belum dibuka, jadi dia belum bisa pakai bahasa Inggrisnya, ya tidak apa, ya tapi tidak hilang itu ilmu, dipelihara saja, nanti beranak malahan, gitu kan?" ujarnya.

Sama halnya, kata Sri Mulyani jika sesorang memiliki ilmu, jika didiamkan saja tidak dipakai, maka ilmu itu akan hilang. Beda cerita jika ilmu didapat terus dipergunakan dan dipelihara dengan baik.

"Yang bisa didapat dari Kartu Prakerja akan dipakai oleh para pengelolanya untuk memberikan 'Oh berarti minat dari market-nya seperti ini,' dan feedback yang dapat pekerjaan itu juga memberikan masukan, jadi saya rasa itu sebuah public policy yang selalu akan diperbaiki," jelasnya.

"Saya tetap berpendapat ini tujuannya untuk memberikan training, upsklling, reskilling, jadi harus tetap dipertahankan," tutupnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Kepesertaan 29 Ribu Penerima Kartu Prakerja Gelombang 12-14 Dicabut

Kartu Prakerja
Kartu Prakerja

Sebelumnya, Manajemen Pelaksana (PMO) Kartu Prakerja mencatat sudah mencabut sebanyak 29 ribu peserta Kartu Prakerja mulai dari gelombang 12 hingga 14 yang tidak melakukan pembelian pelatihan pertama.

“Dari gelombang 12-14 ada sekitar 29 ribu orang yang dicabut kepesertaannya,” kata kata Head of Communications Manajemen Pelaksana Program (PMO) Kartu Prakerja, Louisa Tuhatu, kepada Liputan6.com, Selasa (20/4/2021).

Padahal PMO selalu mengingatkan para peserta melalui website resmi Kartu Prakerja dan media sosial Instagram @prakerja.go.id terkait batas pembelian pelatihan pertama. Namun tetap saja banyak peserta yang tidak membeli pelatihan.

Biasanya PMO akan menginformasikan kepada peserta Kartu Prakerja 3 hari sebelum batas pembelian pelatihan pertama ditutup. Jika peserta tetap tidak membeli pelatihan tersebut mau tidak mau akan dicabut kepesertaannya secara otomatis.

Pencabutan sesuai dengan peraturan Permenko No. 11 Tahun 2020, dimana setiap penerima Kartu Prakerja memiliki waktu 30 HARI untuk membeli pelatihan pertama sejak mendapat SMS pengumuman dari Kartu Prakerja.

“Ini sangat menyedihkan karena banyak orang yang sangat ingin bergabung tetapi tidak lolos seleksi. Yang sudah lolos malah tidak memanfaatkannya,” ungkap Louisa.

Adapun PMO hingga kini mencatat sebanyak 11.000 peserta Kartu Prakerja gelombang 15 belum melakukan pembelian pelatihan pertama sejak dinyatakan lolos dari pendaftaran.

“Sekitar 11 ribu. Di setiap gelombang selalu ada saja yang tidak membeli pelatihan pertama sehingga terpaksa kami cabut kepesertaannya dan mereka tidak akan bisa mengikuti Program Kartu Prakerja lagi,” jelasnya.

Demikian peserta Kartu Prakerja gelombang 15, PMO memberikan waktu hingga Kamis 22 April untuk segera mengikuti pelatihan.

“Batas akhir pembelian pelatihan pertama bagi penerima Kartu Prakerja Gelombang 15 adalah tanggal 22 April 2021 pukul 23.59 WIB,” keterangan di Instagram @prakerja.go.id.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: