Sri Mulyani: Ekonomi Islam Bisa Lepaskan RI dari Middle Income Trap

Daurina Lestari, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menilai, asas-asas ekonomi Islam yang ada dalam Maqashid asy-syariah sangat cocok menjadi solusi utama mengeluarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Adapun Maqashid Asy-syariah tersebut disebutkannya adalah keadilan, kejujuran, transparansi, tata kelola yang baik hingga pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Ini menurutnya bisa diusahakan untuk menggeliatkan ekonomi Indonesia.

"Yang disebut middle income trap itu tata kelola yang buruk, biasanya tidak jujur, korupsi, tidak terorganisasi, tidak rapi, jadi cocok itu jadi salah satu solusinya, nilai-nilai kita untuk bisa mengatasi isu middle income trap," kata dia secara virtual, Selasa, 6 April 2021.

Selain itu, dalam mengelola SDM, Sri menilai, ekonomi dan keuangan syariah menganut prinsip pemerataan. Artinya orang yang memiliki dana berlebih akan menyalurkannya untuk membantu fakir miskin dan anak yatim.

"Dalam Al-Qur'an banyak sekali bicara harus beri perhatian ke orang miskin, anak yatim, investasi SDM, ini penting banget, tidak boleh ada masyarakat yang tertinggal. Ini cocok dengan middle income trap dalam kita menyusun ikhtiar tadi," ucap Sri.

Oleh sebab itu, Sri mengimbau kepada seluruh ahli ekonomi Islam untuk membuat kajian yang sifatnya besar atau tidak mikro saja dalam menghubungkan potensi ekonomi Islam dengan ekonomi riil. Sebab sifat ekonomi Islam menurutnya inklusif, memberi solusi, relevan dan terbukti.

"Saya harap ikhtiar semacam ini menjadi suatu menu pembahasan di antara kita sehingga Indonesia akan makin kaya dengan pemikiran-pemikiran membuat relevan, dan termasuk instrumen yang khusus islamic social finance, wakqa atau zakat," tegas dia.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa, mengatakan, upaya mengeluarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah hanya dapat dilakukan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi tumbuh antara 6-7 persen per tahunnya, dan dimulai dari 2022.

"Pertumbuhan ekonomi dari tahun 2022 paling tidak rata-rata tujuh persen, sehingga kita bisa melepaskan diri atau lulus dari middle income trap," kata Suharso di Jakarta, Rabu 17 Maret 2021.

Suharso menuturkan jika rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi enam persen, maka Indonesia akan lolos dari middle income trap, dengan pendapatan per kapita sebesar 12.535 dolar AS pada 2040.

"Nah, kita berharap lagi, kalau bisa sampai tujuh persen," ujarnya.

Suharso menyatakan setelah pandemi COVID-19, pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen tidak akan cukup untuk mengeluarkan Indonesia dari middle income trap sebelum 2045, sehingga tidak mampu mengembalikan jumlah pengangguran ke tingkat sebelum krisis.