Sri Mulyani: Ekonomi Syariah Dapat Digunakan Seluruh Kementerian Lembaga

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Jokowi-Ma'ruf meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) sekaligus meresmikan Brand Ekonomi Syariah Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/1).

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, peluncuran gerakan ini bertujuan untuk menyatukan gerak bersama peningkatan literasi dan sosialisasi ekonomi syariah yang bersifat inklusif, serta berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan.

"Ekonomi syariah dapat dipergunakan oleh seluruh kementerian dan lembaga serta para stakeholder dalam bidang ekonomi dan keuangan syariah pada setiap produk program kegiatan maupun tempat yang dilakukan," jelas dia dalam sambutannya, Senin (25/1).

Dia berharap gerakan ini juga dapat mendukungpertumbuhan ekonomi syariah yang cepat dan kuat, serta mempercepat visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia.

"Melalui gerakan nasional wakaf uang (juga) diharapkan dapat menguatkan dan mengembangkan berbagai inisiatif yang selama ini sudah berjalan," jelas dia.

Bendahara Negara itu menambahkan, untuk menjaga gerakan nasional wakaf uang ini, KNEKS dan lembaga-lembaga terkait akan melaksanakan berbagai program edukasi dan sosialisasi. Tujuannya adalah uang untuk meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat di dalam berwakaf.

Dia menyadari salah satu tantangan pengembangan ekonomi syariah adalah masih rendahnya literasi ekonomi dan keuangan syariah. Untuk itu komite nasional ekonomi keuangan syariah menginisiasi juga peluncuran brand ekonomi syariah.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

OJK Beberkan 5 Hambatan Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

Ilustrasi OJK (Liputan6.com/Andri Wiranuari)
Ilustrasi OJK (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat MES, Wimboh Santoso mengatakan, bukan perkara mudah untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah secara cepat di Indonesia. Menyusul adanya lima hambatan besar yang mampu mencegat upaya tersebut.

Pertama, market share Ekonomi dan Keuangan Syariah relatif masih rendah. Dia mencatat, saat ini proporsi total aset keuangan syariah hanya mencapai 9,9 persen dari total keuangan konvensional.

Kedua, literasi keuangan syariah saat ini masih rendah. Sebab, indeks literasidan inklusi syariah masing-masing hanya sebesar 8,93 persen - 9,1 persen. Sementara tingkat literasi dan inklusi keuangan lembaga keuangan konvensional sudah mencapai 38,03 persen sampai 76,19 persen.

"Ini semua karena umat masyarakat syariah banyak yang berada di daerah. Mereka belum tersentuh edukasi dan literasi," katanya dalam Webinar Masyarakat Ekonomi Syariah 7th Indonesia Islamic Economic Forum (IIEF), Sabtu (23/1).

Ketiga, diferensiasi model bisnis atau produk syariah masih terbatas. Seperti saham syariah, sukuk korporasi, reksadana syariah, surat berharga negara, asuransi syariah, dan pembiayaan syariah. Sementara lembaga keuangan konvensional dinilai mempunyai produk yang lebih lengkap.

Keempat, adopsi teknologi belum memadai. Menurutnya, saat ini sejumlah lembaga keuangan syariah masih belum memanfaatkan kecanggihan teknologi digital untuk memperkuat operasional bisnis. Alhasil, perlu integrasi teknologi keuangan syariah yang lebih mutakhir sebagaimana yang dilakukan oleh lembaga keuangan konvensional.

"Kami mendorong agar produk dan teknologi konvensional dan syariah harus sama. Kita akan cari, apakah ada suatu birokrasi yang menghambat, setiap produk impact yang datang pertama pasti konvensional. Saya harap ini kedepan bisa site by site, beriringan," terangnya.

Kelima, Pemenuhan sumber daya manusia (SDM) belum optimal. Padahal, SDM dinilai seharusnya mampu untuk menguasai perkembangan teknologi untuk melahirkan berbagai inovasi.

Oleh karena itu, OJK meminta seluruh pemangku kepentingan ekonomi dan keuangan syariah untuk mau bekerja lebih keras dalam mencapai target yang ditentukan. Diantaranya dengan melahirkan sebanyak mungkin inovasi.

"Kita harus kerja secara extra, agar bisa menjawab tantangan itu, dengan ini inovasi kita akan tetap relevan dan harus kita jalankan lebih gencar lagi untuk mencapainya," tukasnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Kinerja Lembaga Keuangan Syariah Lebih Baik dari Konvensional Selama Pandemi

Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Rupiah dibuka di angka 13.355 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.341 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Rupiah dibuka di angka 13.355 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.341 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat MES, Wimboh Santoso memastikan lembaga keuangan syariah masih cukup tangguh di tengah pandemi Covid-19. Bahkan, dia menyebut saat ini kinerja keuangan syariah lebih baik dibandingkan lembaga keuangan konvensional.

Menurutnya, kepastian ini terbukti dari capaian peningkatan di berbagai aspek. Mulai nilai aset, realisasi kredit, hingga likuiditas perbankan syariah yang masih terjaga dengan baik.

"Khusus keuangan syariah, Alhamdulillah tumbuhnya tetap tinggi. Kami sampaikan ini lebih baik daripada konvensional. Aset tumbuh cukup tinggi sebesar 21,48 persen dimana sebelumnya ialah 13,84 persen di tahun 2019," tuturnya dalam Webinar Masyarakat Ekonomi Syariah 7th Indonesia Islamic Economic Forum (IIEF), Sabtu (23/1).

Bos OJK ini mencatat, nominal aset lembaga keuangan syariah ini mencapai Rp 1.770,3 triliun. Rinciannya, aset perbankan syariah sebesar Rp 593,35 triliun, aset pasar modal syariah termasuk reksa dana sebesar Rp 1.063,81 triliun, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah sebesar Rp 113,16 triliun.

Bahkan, pembiayaan bank umum Syariah mencatatkan pertumbuhan 9,5 persen secara yoy. "Ini di tengah kontraksi kredit perbankan nasional sebesar -2,41 persen," terangnya.

Kemudian dalam paparannya, ketahanan perbankan juga cukup baik dengan CAR (Capital Adequacy Ratio) mencapai 21,59 persen. Lalu, NPL (Non Performing Financing) gross sebesar 3,13 persen dan FDR (Financing to Deposit Ratio) sebesar 76,36 persen.

"Sehingga secara umum kondisi lembaga keuangan syariah masih terjaga dengan baik," ujar Wimboh mengakhiri.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: