Sri Mulyani: Indonesia Punya Banyak Alasan untuk Optimis Tetap Maju

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati optimis ekonomi Indonesia akan terus tumbuh sampai akhir tahun ini. Dia juga membuat beberapa skenario terkait tantangan yang akan dihadapi pada 2023 mendatang.

Adapun optimisme tersebut muncul karena Indonesia konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen selama tiga kuartal beruntun sejak triwulan IV-2021. Dan, itu masih akan terus berlanjut sampai tiga bulan terakhir di tahun ini.

Meski demikian, di saat yang sama masyarakat harus terkena beban peningkatan harga komoditas, semisal bahan pangan hingga BBM.

"Karena memang masyarakat kita dihadapkan pada ekonomi yang lagi tumbuh bagus. Tiga kuartal berturut-turut kita tumbuh di atas 5 (persen). Meskipun kemarin naik BBM 30 persen, di mana-mana masih macet. Permintaan, consumer confidence masih sangat kuat," ujarnya, Jumat (28/10).

Menurut Sri Mulyani, optimisme serupa turut terpancar dari tingkat inflasi, yang meskipun naik tapi tidak separah negara lain. Begitu pun untuk nilai tukar rupiah, yang meski terkena depresiasi tapi masih lebih baik dibanding negara lain.

"Sehingga Indonesia punya banyak alasan untuk optimis dan maju. Kuartal ketiga (2022) ini juga kita harapkan momentum pemulihannya masih akan kuat, mungkin bahkan slightly higher dari kuartal II yang 5,4 (persen)," imbuhnya.

Ekonomi 2023

Namun untuk tahun depan, sang Bendahara Negara mengatakan, pemerintah telah menyetel APBN 2023 guna menghadapi kondisi yang sangat dinamis. Khususnya dalam menghadapi tantangan berupa situasi geopolitik Rusia-Ukraina yang penuh ketidakpastian, hingga isu climate change atau perubahan iklim.

"Semua mengatakan global warming, tapi kita tidak tahu siapa yang akan kena, kekeringan siapa yang akan kena. Mungkin aja kita punya BMKG bilang, minggu depan akan seperti ini, bulan depan mungkin terjadi El Nino, La Nina. Tapi precisely kita enggak tahu, tiba-tiba hujan aja enggak berhenti-berhenti, banjir," paparnya.

"Atau, seperti yang teman saya ketemu dengan Menteri Keuangan Brasil atau sama Australia, mereka mengatakan, we never experience the drought yang kemudian semuanya kering dan kebakaran hutan masif. Kalau Anda lihat California, Brazil, Australia, that's quite something," bebernya.

Menurut dia, itu jadi hal yang tak bisa dinegosiasi. Di sisi lain, dunia saat ini pun masih terombang-ambing atas ketidakpastian konflik geopolitik Rusia-Ukraina, plus adanya potensi perang antara Amerika Serikat dengan China.

"Kan itu uncertainity-nya banyak. Makanya disebutkan di tengah risiko, bagaimana kita ekonominya tetap kuat dan bertahan kuat, padahal risikonya itu, pattern-nya jadi very-very difficult untuk di-predict," keluh Sri Mulyani.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [idr]