Sri Mulyani Ingin Pemulihan Ekonomi Tak Bebani APBN

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani meminta pemulihan ekonomi nasional tidak mengandalkan APBN saja. Sektor fiskal dan moneter juga harus bekerja keras untuk meningkatkan daya saing.

"Pemulihan perekonomian tidak hanya bergantung pada APBN makro, dan fiskal moneter harus kerja keras agar memiliki daya saing," kata Sri Mulyani saat menyampaikan Keynote Speaker dalam Webinar CNBC TV dan OJK, Jakarta, Selasa (11/10).

Sri Mulyanimenjelaskan kualitas sumber daya manusia harus menjadi fokus dalam pembuatan kebijakan. Sebab, SDM yang dimiliki Indonesia akan menentukan arah di masa depan.

Produksi yang lebih tinggi di masa depan akan membuka banyak kesempatan yang lebih banyak untuk tenaga kerja. Hany saya ini harus diimbangi dengan kualitas SDM agar berkontribusi dalam pemuliha ekonomi nasional.

Pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja sebagai payung hukum untuk peningkatan produksi. Sektor UMKM dalam UU Nomor 11 tahun 2020 ini akan memberikan berbagai kemudahan.

Peluang inovasi juga akan terwadahi dan dijanjikan lebih mudah dan efisien. Sebab, debiroratisasi dan regulasi dipangkas untuk membuat seluruh potensi ekonomi Indonesia di berbagai sektor bisa meningkat secara baik.

"Pelaksanaan dan dukungan semua pihak akan menciptakan lingkungan ekonomi kompetitif dan produktif, pondasi reformasi seperti di bidang SDM dan SSN luar biasa penting," kata Sri Mulyani.

Diharapkan regulasi ini akan jadi motor penggerak ekonomi dan yang membedakan Indonesia dengan negara lainnya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

3 Kabar Gembira Ini Bikin Sri Mulyani Bisa Tersenyum

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). Kemenkeu mencatat defisit APBN pada Januari 2019 mencapai Rp45,8 triliun atau 0,28 persen dari PDB. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). Kemenkeu mencatat defisit APBN pada Januari 2019 mencapai Rp45,8 triliun atau 0,28 persen dari PDB. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Keuangan Sri Mulyani bisa tersenyum karena ada beberapa berita positif terkait pandemi Covid-19. Salah satunya adalah Uni coba vaksin Covid-19 oleh Pfizer dan BioNTech yang memperlihatkan hasil sangat positif.

"Penemuan efektivitas salah satu vaksin Pfizer timbulkan sentimen positif seluruh dunia," kata Sri Mulyani saat menyampaikan Keynote Speaker dalam Webinar CNBC TV dan OJK, Jakarta, Selasa (11/10/2020).

Vaksin dari Pfizer dan BioNTech ini dikabarkan efektif menangkal virus corona dengan tingkat efektivitas lebih dari 90 persen. Kabar terakhir menyebut vaksin ini tidak memiliki efek samping berbahaya.

Dua perusahaan farmasi ini diketahui memulai masa uji klinis fase akhir sejak bulan Juli 2020. Saat ini dua perusahaan tersebut akan mengajukan penggunaan darurat vaksin Food and Drug Administration (FDA) AS pada pekan ketiga bulan ini. Vaksin ini direncanakan akan memproduksi 50 juta dosis tahu ini 2020 dan 1,3 miliar dosis di 2021.

Selain penemuan vaksin, Sri Mulyani mengatakan hasil pemilihan presiden di Amerika Serikat juga diharapkan membawa sentimen positif. "Hasil Pemilu AS juga diharapkan timbulkan sentimen positif," kata dia.

Sisi lain, pergerakan perekonomian Indonesia juga menunjukkan arah pembalikan dari keterpurukan akibat wabah virus corona. Meski begitu, dia mengingatkan pemerintah perlu tetap bekerja keras untuk menjaga momentum, khususnya di kuartal terakhir tahun 2020.

"Ada berbagai hal kita masih perlu kerja lebih keras agar kuartal IV momentumnya lebih kuat," kata Sri Mulyani.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Meski Resesi, Sri Mulyani Sebut Ekonomi Indonesia Membaik

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). Realisasi defisit APBN pada Januari lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp37,7 triliun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). Realisasi defisit APBN pada Januari lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp37,7 triliun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 terkontraksi minus 3,49 persen. Capaian tersebut lebih baik jika dibandingkan posisi pada kuartal II-2020 yang tercatat minus 5,32 persen.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, capaian pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 sudah cukup baik dibandingkan posisi kuartal sebelumnya. Hal ini menunjukan bahwa proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah dari aktivitas ekonomi nasional saat ini sedang menuju ke arah positif.

"Hal ini lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang minus 5,32 persen. Seluruh komponen ekonomi baik dari sisi pengeluaran mengalami peningkatan maupun dari sisi produksi," kata dia dalam konferensi pers, secara virtual di Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Bendahara Negara itu menambahkan, perbaikan pertumbuhan ekonomi didorong oleh peran stimulus fiskal atau peran dari isntrumen Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Utamanya dalam penanganan covid-19 serta program pemulihan ekonomi nasional (PEN)

Dia menyebut, pada kuartal III-2020 penyerapan belanja negara mengalami akselerasi peningkatan. Tercatat sampai dengan akhir September kuartal III-2020 tumbuh 15,5 persen. Terutama di topang reealisasi bantuan sosial dan dukungan untuk dunia usaha, dan usaha kecil mikro.

"Rilis BPS juga mengonfirmasi percepatan realisasai belanjan negara meningkat pesat pada kuartal III telah membantu pembalikan dari pertumbuhan konsusmi pemerintah yang postif sebesar 9,8 persen yoy," tandas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: