Sri Mulyani Jelaskan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Melemah di 2020

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, nilai tukar rupiah mengalami pergerakan yang dinamis mengikuti sentimen global. Pada Maret dan April 2020 terjadi gelombang capital outflow di Indonesia tetapi hal tersebut wajar karena kepanikan global.

Sri Mulyani menjelaskan, gelombang capital out flow tersebut membuat nilai rupiah tertekan. Namun tekanan tak hanya terjadi di rupiah, beberapa mata uang negara lain juga mengalami hal yang sama.

Pemerintah pun mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Pada Maret dan April terjadi gelombang capital outflow akibat kepanikan global karena pandemi sehingga nilai tukar semua negara ini naik," kata Sri Mulyani dalam Sidang Paripurna DPR-RI, Jakarta, Kamis (15/7/2021).

Berbagai langkah yang diambil tersebut akhirnya mampu membuat rata-rata nilai tukar rupiah menjadi 14.577 per dolar AS. Angka ini membuat rupiah cenderung melemah dibandingkan dengan rata-rata 2019 sebesar 14.146 per dolar AS.

"Ini cenderung lemah dibandingkan dengan nilai tukar rupiah tahun 2019 sebesar 14.146 per dolar AS," kata dia.

Meski rupiah tertekan, cadangan devisa Indonesia pada akhir 2020 tetap tinggi. Tercatat sebesar USD 135,9 miliar, lebih baik dari akhir 2019 sebesar USD 129,18 miliar. Dari cadangan tersebut ekuivalen dengan pembiayaan 10,2 impor dan berada di atas standar ketentuan internasional.

Sementara itu, di tengah situasi yang dipengaruhi Covid-19 kinerja neraca perdagangan justru mengalami surplus hingga USD 21,72 miliar. Meroket dari capaian tahun 2019 yang mengalami defisit sebesar USD 3,59 miliar.

"Neraca Perdagangan mengalami surplus yang melonjak tinggi dari 2019 yang mengalami defisit sebesar USD 3,59 miliar," kata dia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Rupiah Melemah hingga 14.510 per Dolar AS Imbas Pidato Gubernur The Fed

Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Kamis pekan ini. Rupiah melemah tembus ke 14.500 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, Kamis (15/7/2021), rupiah dibuka di angka 14.482 er dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.480 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus melemah ke 14.500 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.482 per dolar AS hingga 14.510 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 3,20 persen.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi, melemah seiring pelaku pasar yang menanti pidato Gubernur The Fed, Jerome Powell.

"Pelaku pasar mengekspektasikan kebijakan moneter longgar The Fed tetap dipertahankan, hingga membaiknya data tenaga kerja dan target inflasi," tulis Tim Riset NH Korindo Sekuritas dikutip dari Antara.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun dari 1,42 persen ke level 1,4 persen, di tengah penantian pidato Gubernur The Fed Jerome Powell mengenai kebijakan moneter.

Dari domestik, investor menantikan rilis data neraca perdagangan Juni, yang diproyeksikan kembali surplus senilai USD 1,8 miliar. Proyeksi tersebut lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya yang surplus USD 2,3 miliar.

Di sisi lain, pelaku pasar tetap mencermati dampak dari rencana perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2021 akan melambat menjadi 4 persen sampai 5,4 persen. Sementara, periode kuartal IV 2021 diperkirakan akan tumbuh 4,6 persen hingga 5,9 persen.

Di Indonesia, pada Rabu (14/7) kemarin, jumlah kasus baru COVID-19 mencetak rekor harian baru yaitu 54.517 kasus sehingga total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 menjadi 2.670.046 kasus.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel