Sri Mulyani: Kami Bisa Meminimalisir Kerusakan Ekonomi karena COVID-19

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis, kebijakan stimulus ekonomi yang telah digelontorkan oleh Pemerintah telah mampu meminimalisir dampak kerusakan ekonomi dari COVID-19.

Stimulus baik yang dikeluarkan melalui kebijakan fiskal maupun moneter, dinilainya telah mampu menjaga kontraksi ekonomi Indonesia menjadi hanya minus 2,07 persen pada 2020, relatif kecil dari negara anggota G20.

"Menurut saya situasinya sekarang sudah membaik setelah tahun lalu kita menerapkan stimulus fiskal. Kami mampu meminimalisir kerusakan ekonomi karena COVID-19," kata Sri Mulyani dikutip dari keterangannya, Rabu, 24 Maret 2021.

Pada 2021, dipastikannya, Indonesia akan terus berusaha melakukan percepatan pemulihan ekonomi. Dimulai pada kuartal ketiga tahun lalu, dan beberapa sektor yang juga pulih dengan sangat cepat.

Baca juga: Tiga Fokus Utama Anindya Bakrie Jika Terpilih Jadi Ketum Kadin

Namun hal ini menurut Sri masih berjalan seiring dengan penanggulangan penyebaran Pandemi COVID-19, walaupun sekarang Indonesia sedang mempercepat program vaksinasi.

"Jadi bagaimana kami akan menangani COVID-19 ini, mengelola dan mengendalikan penyebaran COVID-19 setelah sempat meningkat. Namun sekarang COVID-19 menurun," tegas Sri.

Untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021, Sri mengungkapkan OECD baru saja merevisi proyeksi mereka untuk Indonesia, menjadi antara 4 persen-4,9 persen, seiring dengan proyeksi IMF juga sekitar 4,8 persen.

Proyeksi dari Pemerintah sendiri katanya antara 4,5 -5,3 persen. Kontribusi signifikan dari sisi permintaan, pemulihan konsumsi dan ekspor. Selain itu, investasi mulai meningkat dan Pemerintah akan membangun kembali kepercayaan konsumen.

“Maka dengan itu kami sangat berharap percepatan pemulihan akan semakin cepat terutama pada kuartal II tahun ini dan akan terus berlanjut hingga kuartal terakhir tahun 2021," papar Sri.

Untuk kuartal I-2021 Sri juga telah mengumumkan proyeksi ekonomi Indonesia masih akan dalam zona kontraksi, yaitu minus 1 persen hingga minus 0,1 persen. Namun, dia berharap sudah bisa masuk zona netral.

"Untuk kuartal I di Kemenkeu masih dalam range antara minus 1 persen hingga minus 0,1 persen,” kata Ani panggilan akrabnya dalam Konferensi Pers APBN KiTA secara daring di Jakarta, Selasa 23 Maret 2021.