Sri Mulyani: Kita Harus Waspada, Ancaman Resesi Berlangsung Hingga Tahun Depan

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mewaspadai ancaman resesi di negara lain di dunia. Bahkan, ancaman resesi ini akan terus menghantui hingga tahun depan.

Kondisi ekonomi global saat ini masih berupaya untuk pulih pasca dihantam pandemi Covid-19. Kemudian, ditambah adanya ketegangan geopolitik yang berpengaruh pada pasokan kebutuhan energi di seluruh dunia.

"Jadi kita harus tetap waspada, karena ini (ancaman resesi) akan terus berlangsung hingga tahun depan," kata dia kepada wartawan di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Rabu (13/7).

Sri Mulyani saat ini sedang mencari solusi dari sejumlah tantangan yang dihadapi tersebut. Dia mengaku akan membawa pembahasannya ke dalam forum G20. Utamanya di jalur keuangan atau Finance Track guna membahas berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

"Risiko global mengenai inflasi dan resesi atau stagflasi ini sangat real dan akan menjadi salah satu topik penting di dalam pembahasan kita di dalam G20 Finance Track," ujarnya.

Di sisi lain, Sri Mulyani juga merespons survei terbaru yang dilakukan Bloomberg. Di sana disebut, Indonesia masuk daftar negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi. Rinciannya, Sri Lanka berada di posisi pertama dengan persentase 85 persen, New Zealand 33 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 25 persen, China 20 persen, Hong Kong 20 persen.

Selain itu Australia tercatat 20 persen, Taiwan 20 persen, Pakistan 20 persen, Malaysia 13 persen, Vietnam 10 persen, Thailand 10 persen, Philipina 8 persen, Indonesia 3 persen dan India 0 persen.

Meski angkanya cukup kecil, Sri Mulyani memutuskan untuk tetap waspada. Salah satu upayanya dengan mengerahkan berbagai instrumen kebijakan yang berlaku di Indonesia.

"ini tidak berarti kita terlena, kita tetap waspada, namun message-nya adalah kita akan menggunakan instrumen kebijakan kita. Apakah itu fiscal policy, monetary policy di OJK, financial sector dan juga regulasi yang lain untuk memonitor terutama potensi exposure dari korporasi indonesia," tutur dia.

Krisis Global 2008-2009

Melihat kondisi saat ini, Sri Mulyani berkaca pada posisi Indonesia pasca krisis keuangan global yang terjadi pada 2008-2009 lalu. Setelah itu, Menkeu Sri Mulyani mengaku kondisi ekonomi Indonesia cenderung lebih baik.

"Hal yang baik adalah sejak krisis 2008-2009, krisis global, sektor keuangan kita relatif jauh lebih prudent sehingga capital education issue mereka lebih baik, residensi mereka bagus, sehingga NPL-nya bisa terjaga dan juga exposure terhadap pinjaman luar negeri menurun," ujarnya.

Dari kondisi itu, Menkeu mengambil pelajaran. Di sektor korporasi, sektor finansial, APBN, hingga sektor moneter, semuanya berupaya memperkuat dirinya masing-masing.

"Sehingga menghadapi risiko seperti sekarang ini kita dalam situasi daya tahannya masih lebih baik," katanya.

Reporter: Arief Rahman Hakim

Sumber: Liputan6.com [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel